Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi USD 454,8 Miliar, BI Pastikan Terkendali

Hany Akasah • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 10:41 WIB
TREN PERLEMAHAN : Rabu (29/7) pagi, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp18.079/US$. Volatilitas ini terus menjadi perhatian para pelaku pasar. (FOTO : ISTIMEWA)
 ILUSTRASI: Posisi Utang Luar Negeri (ULN) RI Juli 2026 terkendali di USD 454,8 miliar.(FOTO : ISTIMEWA)

RADAR SURABAYA BISNIS – Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Juli 2026 berada di angka 454,8 miliar dolar AS, atau mengalami pertumbuhan sebesar 4,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). 

Meski mencatatkan kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di posisi 454,5 miliar dolar AS, BI memastikan struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat dan terkendali.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resminya pada Selasa (15/9/2026), menjelaskan bahwa perkembangan ini utamanya didorong oleh peningkatan ULN sektor publik, di tengah tren penurunan pada ULN sektor swasta.

Baca Juga: 25 Merek Beras Ini Diduga Tak Sesuai Standar, Rugikan Konsumen Hingga Rp89 Triliun

"Struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 30,7 persen pada Juli 2026, serta didominasi oleh ULN jangka panjang," ujar Ramdan.

Tercatat, posisi ULN Pemerintah pada Juli 2026 mencapai 218,4 miliar dolar AS atau tumbuh 3,2 persen (yoy). Peningkatan ini dipengaruhi oleh tingginya aliran modal asing yang masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) internasional. 

Menurut BI, tren ini merupakan sinyal positif yang mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan investor global terhadap prospek perekonomian Indonesia.

Baca Juga: Karhutla Mulai Menghantam Pariwisata Jatim, Ini Efeknya ke Okupansi Hotel

Pemerintah juga memastikan pengelolaan ULN dilakukan secara terukur dan diarahkan pada pembiayaan sektor produktif. Dana dari ULN pemerintah difokuskan untuk mendukung sektor krusial, seperti Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0%), Administrasi Pemerintah dan Pertahanan (20,7%), serta Jasa Pendidikan (16,2%).

Berbanding terbalik dengan utang pemerintah, posisi ULN swasta pada Juli 2026 justru mengalami penyusutan. ULN swasta tercatat turun menjadi 194,5 miliar dolar AS, atau terkontraksi 1,2 persen (yoy).

Penurunan ini disumbang oleh kontraksi pada lembaga keuangan (financial corporations) sebesar 0,3 persen (yoy) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) sebesar 1,4 persen (yoy). 

Baca Juga: BPOM Tarik 31 Suplemen dan Jamu Ilegal Mengandung Bahan Berbahaya, Cek Daftarnya di Sini!

Sebagian besar ULN swasta saat ini mengalir ke sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan, yang menyumbang 80,6 persen dari total utang swasta.

Ke depan, Bank Indonesia bersama Pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN. 

"Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan, dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," pungkasnya.

Baca Juga: ​Sah Gantikan Purbaya, Suahasil Nazara Ditunggu Gebrakannya oleh Dunia Usaha

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
utang indonesia bank indonesia utang luar negeri pdb keuangan