RADAR SURABAYA BISNIS – Malaysia memulai operasi penyemaian awan selama tiga hari di negara bagian Sarawak untuk mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Operasi modifikasi cuaca ini diharapkan mampu meningkatkan cadangan air di sejumlah bendungan pembangkit listrik tenaga air.
Dilansir The Star, Jumat (4/9/2026), operasi ini menargetkan bendungan pembangkit listrik tenaga air Batang Ai, Bakun, dan Murum, dengan penerbangan selanjutnya menyasar sejumlah daerah tangkapan air utama di seluruh Sarawak.
Baca Juga: Jamu Prabowo di Rusia, Putin Tawarkan Kapal Canggih untuk Indonesia
Wakil Menteri Utama Sarawak, Douglas Uggah Embas, mengatakan operasi ini bertujuan meningkatkan ketinggian air di bendungan-bendungan tersebut, sebagai antisipasi kondisi cuaca yang berpotensi lebih panas dan kering pada Oktober mendatang.
Sarawak sendiri merupakan negara bagian Malaysia yang berbatasan darat dengan Indonesia di Pulau Kalimantan, sehingga menjadi salah satu wilayah yang terdampak asap karhutla.
Dilansir Anadolu Agency, Malaysia disebut telah meminta persetujuan Indonesia untuk melakukan operasi penyemaian awan dengan memanfaatkan wilayah udaranya, guna mengatasi kabut asap akibat karhutla.
Baca Juga: Serunya Liburan Akhir Pekan di Taman Prestasi Surabaya, Gratis dan Ramah Anak!
"Target kami hari ini adalah kawasan pembangkit listrik tenaga air Batang Ai terlebih dahulu. Setelah itu, tim akan melanjutkan ke Murum dan Bakun untuk menilai kondisi awan di masing-masing kawasan tersebut," ujar Uggah kepada Astro Awani, Jumat (4/9/2026).
Ia menambahkan pihaknya turut menargetkan 13 daerah tangkapan air di Sarawak, guna meningkatkan ketinggian air di masing-masing kawasan tersebut.
Operasi modifikasi cuaca ini melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Malaysia (NADMA), Badan Meteorologi Malaysia (MetMalaysia), dan Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (RMAF).
Baca Juga: Hampir Rp1 Miliar Pajak Jatim Dibebaskan, Ini Rincian 461 Ribu Objek Pembebasan
Kabut asap akibat karhutla di Kalimantan sebelumnya juga sempat memicu penutupan hampir 600 sekolah di kawasan dekat perbatasan Indonesia-Malaysia, sekaligus menjadi sorotan sejumlah negara ASEAN yang menyampaikan keberatan atas dampak lintas batas dari kabut asap tersebut.
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis