Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Stok Beras Jawa Timur Melimpah, Serapan Bulog Jatim Tembus 98,35 Persen

Mus Purmadani • Selasa, 7 Juli 2026 | 18:11 WIB
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adinugroho, mengatakan Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Timur hampir menuntaskan target pengadaan beras tahun 2026.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adinugroho, mengatakan Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Timur hampir menuntaskan target pengadaan beras tahun 2026.

radarsurabayabisnis.id - Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Timur hampir menuntaskan target pengadaan beras tahun 2026. Hingga 4 Juli 2026, realisasi penyerapan telah mencapai 869.359 ton setara beras atau 98,35 persen dari target pengadaan sebesar 883.912 ton setara beras.

Capaian tersebut memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu daerah dengan kontribusi terbesar terhadap pengadaan beras nasional.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adinugroho, mengatakan keberhasilan itu berasal dari penyerapan 1,69 juta ton Gabah Kering Panen (GKP). Dibandingkan periode yang sama tahun 2025, pengadaan tahun ini meningkat sekitar 34 persen, dari 651.009 ton menjadi 869.359 ton setara beras.

Baca Juga: Kembali Cetak Rekor, Stok Beras Bulog Tembus 5,18 Juta Ton, Aman hingga 2027

"Target pengadaan tahun ini hampir tercapai. Kami optimistis hingga akhir tahun target dapat dipenuhi," ujar Langgeng kepada Radar Surabaya, Selasa (7/7).

Menurut Langgeng, tingginya serapan Bulog Jatim tidak terlepas dari besarnya produksi padi di Jawa Timur. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), potensi produksi gabah di provinsi ini sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 14,94 juta ton.

Keberhasilan tersebut juga ditopang sinergi antara Bulog dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, penyuluh pertanian, kelompok tani, gabungan kelompok tani (Gapoktan), hingga mitra penggilingan. Kolaborasi tersebut mempermudah pemetaan jadwal panen sehingga proses penyerapan gabah dapat dilakukan lebih cepat.

Bulog juga mengoptimalkan Tim Jemput Pangan yang turun langsung ke sentra produksi untuk membeli gabah petani sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram. Menurut Langgeng, kebijakan tersebut memberikan kepastian harga bagi petani sekaligus memastikan hasil panen dapat terserap.

Baca Juga: Gudang Bulog Simpan 5 Juta Ton Beras, Pemerintah Jamin Harga Pangan Stabil

"Sinergi lintas sektor sangat besar kontribusinya. Pemerintah daerah membantu koordinasi wilayah, penyuluh menyampaikan informasi panen, sedangkan TNI dan Polri mendukung pendampingan agar penyerapan berjalan sesuai target pemerintah," katanya.

Di sisi lain, Bulog Jatim kini memiliki stok beras sekitar 1,36 juta ton. Dengan kebutuhan untuk program Bantuan Pangan dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), jumlah tersebut diperkirakan cukup memenuhi kebutuhan masyarakat selama sekitar 16 bulan.

Menurut Langgeng, Bulog juga telah mengantisipasi potensi musim kemarau panjang maupun El Nino dengan memperkuat Cadangan Beras Pemerintah sejak panen raya. Selain meningkatkan kapasitas penyimpanan, percepatan distribusi bantuan pangan dan SPHP juga dilakukan untuk menjaga stabilitas harga beras di pasaran.

Tidak hanya beras, Bulog Jatim juga mendapat penugasan menyerap jagung berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2026. Hingga awal Juli 2026, realisasi pengadaan jagung telah mencapai 50.390 ton atau 50,39 persen dari target 100.000 ton.

Angka tersebut melonjak sekitar 572 persen dibandingkan total pengadaan jagung sepanjang 2025 yang hanya mencapai 7.500 ton. Capaian itu menunjukkan peningkatan signifikan dalam pelaksanaan penugasan pemerintah di sektor komoditas pangan.

Meski hampir memenuhi target pengadaan beras, Bulog masih menghadapi tantangan di lapangan. Di sejumlah daerah, harga gabah di tingkat petani berada di atas HPP sehingga sebagian petani memilih menjual hasil panennya kepada pembeli lain yang menawarkan harga lebih tinggi.

Meski demikian, Langgeng menilai kebijakan HPP sebesar Rp6.500 per kilogram tetap efektif meningkatkan kesejahteraan petani karena memberikan kepastian harga sekaligus melindungi petani dari permainan harga oleh tengkulak.

Untuk menjaga kualitas beras di tengah tingginya stok, Bulog menerapkan pemeriksaan mutu sejak penerimaan, pengendalian hama gudang secara terpadu melalui pengaturan sirkulasi udara, kebersihan gudang, pemantauan harian, hingga penyemprotan rutin dan fumigasi apabila diperlukan.

Secara nasional, target pengadaan beras Bulog tahun 2026 mencapai 4 juta ton. Dari jumlah tersebut, Jawa Timur mendapat target 883.912 ton atau sekitar 22 persen dari target nasional.

Hingga 4 Juli 2026, kontribusi Bulog Jawa Timur telah mencapai sekitar 26,39 persen dari total pengadaan nasional yang menembus 3.293.114 ton. Kontribusi tersebut menjadikan Jawa Timur sebagai salah satu penyumbang terbesar dalam memperkuat Cadangan Beras Pemerintah.

Memasuki semester II 2026, Bulog Jatim akan tetap memprioritaskan penyaluran SPHP dan penyerapan hasil panen petani sesuai ketentuan pemerintah. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas harga pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di Jawa Timur.

Editor : Hany Akasah
#beras jatim #pertanian jatim #stok beras #beras bulog #Bulog Jatim