radarsurabayabisnis.id - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan anjloknya harga telur ayam di tingkat peternak tidak bisa diselesaikan hanya dengan memanggil pedagang perantara (middleman). Menurutnya, persoalan tersebut jauh lebih kompleks karena dipengaruhi ketidakseimbangan pasokan dan harga pasar.
Pemprov Jawa Timur saat ini tengah mengkaji seluruh rantai distribusi telur agar solusi yang diambil benar-benar menyentuh akar persoalan dan mampu melindungi peternak.
Baca Juga: Harga Telur Jatuh ke Rp16.000 per Kg, Pemprov Jatim Ungkap Strategi Bantu Peternak
"Kalau diasumsikan middleman mengambil margin terlalu tinggi, kenyataannya mereka diminta membeli dari peternak seharga Rp26.500 per kilogram, sementara di pasar hanya bisa menjual sekitar Rp25.000 per kilogram. Berarti ada persoalan lain yang harus diselesaikan. Jadi masalah ini tidak cukup hanya dengan mengumpulkan middleman," kata Emil.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah dan harga riil yang terbentuk di pasar.
Pemprov Jatim Akan Dudukkan Semua Pihak
Untuk mencari solusi, Pemprov Jawa Timur akan mempertemukan seluruh pelaku dalam rantai distribusi, mulai dari peternak hingga pedagang perantara.
Langkah tersebut dilakukan agar seluruh pihak dapat membuka data dan menghitung struktur biaya secara transparan, termasuk jika terdapat dugaan margin perdagangan yang terlalu besar.
"Pertemuan nanti tidak hanya antara pemerintah dan middleman untuk menyampaikan surat edaran. Kita akan dudukkan bersama para peternak. Kalau memang ada anggapan margin middleman terlalu besar, mari kita buka bersama hitung-hitungannya," ujarnya.
Emil menilai pedagang juga menghadapi dilema ketika diminta membeli telur sesuai harga acuan pemerintah, sementara harga jual di pasar justru lebih rendah.
Baca Juga: Harga Ayam dan Telur Anjlok, Pemerintah Andalkan BGN Jadi Penyerap Pasar
"Kalau Anda menjadi pedagang, disuruh membeli telur dari peternak Rp26.500, sementara harga jual di pasar hanya Rp25.000, tentu tidak mau. Artinya, persoalan ini memang lebih kompleks," tegasnya.
Oversupply Jadi Penyebab Utama Harga Telur Jatuh
Emil mengungkapkan penyebab utama anjloknya harga telur adalah kelebihan pasokan (oversupply).
Ia menjelaskan, ayam petelur idealnya diafkir saat berusia sekitar 90 minggu karena produktivitasnya mulai menurun. Namun ketika permintaan telur sempat meningkat beberapa waktu lalu, banyak peternak memperpanjang masa produksi hingga sekitar 120 minggu.
Di saat bersamaan, populasi ayam petelur juga terus bertambah sehingga produksi telur melampaui kebutuhan pasar.
"Oversupply ini memang fakta. Ayam petelur seharusnya diafkir pada usia sekitar 90 minggu, tetapi ada yang diperpanjang hingga 120 minggu. Ditambah lagi banyak peternak menambah populasi ayam sehingga produksi telur menjadi berlebih," jelasnya.
Harga Ayam Hidup Ikut Terdampak
Pemprov Jawa Timur juga telah berkoordinasi dengan pelaku industri pembibitan, mulai dari penyedia grandparent stock (GPS) hingga rantai pembibitan lainnya agar penambahan populasi ayam disesuaikan dengan kebutuhan nasional.
Namun, dampak kelebihan produksi yang terjadi sebelumnya masih membayangi pasar hingga saat ini.
Menurut Emil, kondisi tersebut tidak hanya menyebabkan harga telur jatuh, tetapi juga menekan harga ayam petelur afkir dan ayam pedaging (broiler).
"Ini merupakan dampak dari kondisi sebelumnya. Akibatnya bukan hanya harga telur yang turun. Ketika ayam petelur diafkir secara bersamaan, harga ayam hidup juga ikut jatuh sehingga berpengaruh terhadap harga ayam pedaging (broiler)," katanya.
Ia menambahkan, fenomena serupa juga terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Meski demikian, sebagai sentra produksi telur terbesar sekaligus lumbung pangan nasional, Jawa Timur akan mengambil langkah yang lebih serius untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak.
"Karena Jawa Timur merupakan tulang punggung lumbung pangan nasional, kita harus bekerja lebih keras. Kita tidak boleh menyerah pada keadaan, terutama dalam melindungi para peternak kita," pungkasnya.
Editor : Hany Akasah