SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) – Dalam mendorong produksi komoditas perkebunan di Jawa Timur, khususnya kopi, masih ada beberapa kendala yang dihadapi.
Diantaranya adalah berkurangnya lahan-lahan subur karena beralih fungsi dan kelangkaan pupuk yang dialami petani.
Kondisi itu membuat petani mengalami kesulitan untuk menggenjot produksi mereka.
“Lahannya semakin sempit, lahan-lahan subur berkurang dan itu mengurangi hasil produksi petani. Belum lagi kalau ada permasalahan di pengolahan. Setiap tumbuh harus ada pupuk. Persoalan luar biasa karena stiap tahun persoalan petani lagi-lagi dihadapkan dengan mahalnya harga pupuk,” katanya.
Masalah lain, kata Heru, yang dialami petani adalah adanya hama yang sering menyerang tanaman petani.
Untuk mencegah hama tersebut, pihaknya sudah mempesiapkan benih unggul dan mengimbau para petani untuk menggunakannya.
Dengan benih yang tahan penyakit dan bagus, maka produksi petani bisa terdongkrak naik dan maksimal.
“Oleh karena itu kita harus pinter-pinter memilih bibit unggul tahan penyakit. Kalau benih tidak bersertifikat itu illegal, tetapi memang kalau legal dibeli mahal. Tetapi saya yakin akan menghasilkan yang bagus,” jelas Pj Bupati Tulungagung itu.
Dinas Perkebunan Jawa Timur berupaya mendongkrak produksi kopi petani.
Salah satunya bekerja sama dengan perguruan tinggi yang bertujuan memberikan support kepada petani, agar tanaman yang dihasilkan bisa meningkat produksinya melalui pemberian benih unggul, pemupukan dan penambahan lahan produksi.
“Kita bekerja sama dengan perguruan tinggi dan petani bagaimana produksi kopi bertambah dengan rehabilitasi, penambahan lahan dan intesifikasi dengan penambahan pupuk,” ujar Kepala Dinas Perkebunan Jatim Heru Suseno, Senin (17/6).
Heru menambahkan, Heru mengatakan, pihaknya sudah mulai mengembangkan benih bersertifikat unggul di beberapa daerah di Jatim.
Diantaranya adalah benih kopi di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
“Kami mengembangkan benih kopi. Kita punya di Lumajang ada kebun benih dengan kualitas yang sangat bagus,” jelasnya.
Selain peningkatan kualitas benih, langkah lain yang dilakukan adalah mengimbau agar petani menggunakan pupuk organik.
Langkah itu bisa dijadikan alternatif lain, agar petani tidak kebingungan ketika pupuk kimia langkah dan mahal.
Selama pihaknya memang mengalami kendala untuk berkoordinasi dengan kabupaten/kota dalam rangka mendongkrak produksi perkebunan.
Salah satunya adalah karena masih terbatasnya tenaga yang menangani perkebunan.
"Pada saat sinkronisasi kita cocokkan, antara produksi tembakau, kopi, coklat cengkeh ini menjadi sebuat kesatuan di Jatim. Kita tidak bisa bekerja sendiri karena butuh bantuan petani dan dinas di kabupaten/kota untuk mengembangkan perkebunan di Jatim,” pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista PurnamasariSumber : Radar Surabaya