RADAR SURABAYA BISNIS — Tren gaya hidup sehat kini bukan lagi sekadar hobi, melainkan penggerak utama pasar konsumsi selama bulan Ramadan.
Data terbaru menunjukkan adanya pergeseran signifikan pola belanja masyarakat yang mulai meninggalkan makanan balas dendam berminyak dan beralih ke produk nutrisi esensial untuk menjaga metabolisme tubuh.
Berdasarkan analisis medis, saat berpuasa tubuh mengalami transisi penggunaan energi dari glukosa ke pembakaran lemak.
Fenomena biologis ini memicu lonjakan permintaan pada kategori produk tertentu yang membantu proses adaptasi tubuh tanpa membebani sistem pencernaan.
Revolusi Menu Buka Puasa
Peluang bisnis paling mencolok terlihat pada kategori hidrasi dan pangan fungsional. Produk seperti susu, jus buah murni, dan smoothies kini bersaing ketat dengan minuman manis konvensional.
Pelaku usaha yang mampu mengemas minuman kaya vitamin dan mineral tanpa tambahan gula buatan diprediksi akan memimpin pasar.
Baca Juga: Fenomena War Takjil 2026, Intip Peluang Cuan dari Menu Buka Puasa Paling Valid Versi Gen Z
Selain hidrasi, komoditas kurma dan buah kering tetap menjadi primadona. Namun, ada ceruk pasar baru yang berkembang: penyediaan makanan pembuka hangat seperti sup berbahan kacang-kacangan (lentil atau kacang merah).
Menu ini mulai diminati konsumen karena menawarkan protein tinggi yang memberikan rasa kenyang lebih lama bagi pekerja produktif.
Pergeseran ke Protein Rendah Lemak
Di sektor protein, terjadi transisi dari daging merah berlemak menuju sumber protein yang lebih bersih seperti ikan dan protein nabati.
Baca Juga: Revolusi Pendingin Tanpa Freon, Ilmuwan Temukan Teknologi Ionokalori yang Lebih Hemat Energi
Strategi portion control atau kemasan porsi kecil juga menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen yang ingin menghindari gangguan pencernaan seperti heartburn dan perut kembung.
Para pelaku usaha kuliner dan ritel yang mampu beradaptasi dengan menyediakan pilihan menu rendah lemak dan tinggi serat dipastikan akan mendapatkan momentum pertumbuhan positif sepanjang bulan suci ini.
Editor : Hany Akasah