RADAR SURABAYA BISNIS – Pelestarian ekosistem lahan basah di Jawa Timur kini bukan sekadar isu lingkungan, melainkan instrumen vital dalam menjaga stabilitas ekonomi dan potensi investasi hijau.
Balai Besar KSDA Jawa Timur menekankan bahwa lahan basah merupakan aset alam yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan sekaligus warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Kepala BBKSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menjelaskan bahwa konservasi lahan basah adalah bentuk investasi jangka panjang.
Dengan menjaga ekosistem seperti mangrove dan rawa, daerah dapat menekan biaya mitigasi bencana seperti banjir dan intrusi air laut yang sering kali merugikan sektor industri dan pemukiman.
"Konservasi ini adalah tentang keseimbangan. Pengetahuan tradisional masyarakat dalam mengelola lahan basah sebenarnya adalah model ekonomi berkelanjutan yang sudah teruji waktu," ujar Nur Patria.
Dalam tema Hari Lahan Basah Sedunia 2026, "Rawat Tradisi, Lahan Basah Lestari," pemerintah mendorong integrasi antara ilmu pengetahuan modern dan praktik tradisional.
Bagi sektor bisnis, hal ini membuka peluang pada pemanfaatan sumber daya alam yang bertanggung jawab, ekowisata, hingga pengembangan produk lokal berbasis komunitas yang memiliki nilai jual tinggi di pasar global yang kini sangat memperhatikan aspek sustainability.
Namun, tantangan besar tetap membayangi. Alih fungsi lahan dan pencemaran menjadi ancaman nyata yang dapat menggerus daya dukung ekosistem.
BBKSDA Jatim mengajak sektor swasta dan masyarakat untuk berkolaborasi dalam pengelolaan lahan yang inklusif agar manfaat ekonominya dapat dirasakan hingga generasi mendatang.
Editor : Hany Akasah