SURABAYA – Kabar gembira bagi masyarakat yang kesehariannya memanfaatkan transportasi umum untuk mobilitas.
Kini, Bus Trans Jatim sudah terintegrasi dengan layanan transportasi publik Surabaya seperti Suroboyo Bus, Wira Wiri dan Trans Semanggi Suroboyo.
Semua transportasi publik tersebut kini sudah bisa diakses dalam satu aplikasi Trans Jatim Ajaib.
Kepala Dinas Perhubungan Jatim Nyono menuturkan, hanya saja untuk tarif masih dalam tahap pembahasan nett-nya.
"Kami sudah tiga kali mengundang Pemkot Surabaya (Dishub dan BUMD), sudah mengerucut finansial tarifnya," katanya kepada Radar Surabaya, Kamis (22/2).
Artinya, lanjut Nyono, kalau penumpang Suroboyo Bus masuk ke Trans Jatim maka tarifnya dikalikan 0,5 persen.
"Akan tetapi kalau dari Trans Jatim ke Suroboyo Bus, mereka (Suroboyo Bus) dapat 0,5 persen dan Trans Jatim dapat 1 persen," terangnya.
Sebagaimana diketahui, sejauh ini Pemprov Jatim telah merealisasikan bus trans Jatim pada tiga koridor.
Masing-masing koridor I meliputi Sidoarjo – Surabaya – Gresik untuk menunjang aktivitas masyarakat, utamanya mereka yang bekerja, yang diresmikan Gubernur Khofifah pada 19 Agustus 2022.
Kemudian koridor II meliputi Mojokerto – Sidoarjo diresmikan pada tanggal 20 Agustus 2023 dengan misi membantu mengurangi emisi gas buang di Jawa Timur.
Sedangkan koridor III meliputi Mojokerto – Gresik diresmikan pada tanggal 18 Oktober 2023 dengan misi mengembangkan sekaligus memudahkan akses ke sektor pariwisata di Jatim, khususnya di wilayah yang dilintasi koridor III.
Untuk jumlah bus di koridor I sampai III total sebanyak 70 armada. Koridor I sebanyak 30 armada, sedangkan koridor II dan III masing-masing 20 armada bus.
Sementara itu, sebelumnya Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya Tundjung Iswandaru mengatakan tarif masih dalam pembahasan dan belum final.
Menurutnya, pihaknya masih terus melajukan komunikasi dengan Dishub Jatim.
"Integrasi pembayaran sedang dibahas melalui raperda. Progresnya terus positif. Tinggal menunggu legalitasnya. Artinya, semua sudah sepakat. Muaranya setuju skema satu banding dua," terangnya.
Ia berharap skema integrasi ini dapat menarik penumpang lebih masif, sehingga masyarakat semakin tertarik naik angkutan umum.
Selain itu, skema tersebut bertujuan supaya memberi kemudahan pelayanan transportasi publik.
Agar warga tak lagi mengandalkan kendaraan pribadi. Sekaligus akan menimbulkan efek jangka panjang yang positif.
"Bisa mengurangi kemacetan, menekan angka kecelakaan, menekan polusi, hingga mendongkrak sektor ekonomi. Intinya, pemerintah tidak berorientasi pada profit. Melainkan terus berupaya memberi kemudahan akses bagi masyarakat," pungkasnya. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari