RADAR SURABAYA BISNIS - Harga emas batangan bersertifikat produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami penurunan pada perdagangan Senin (9/3/2026).
Berdasarkan data terbaru yang dirilis melalui laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam terkoreksi cukup signifikan dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya.
Untuk pecahan 1 gram, harga emas Antam hari ini dipatok sebesar Rp 3.004.000 per gram.
Angka tersebut turun Rp 55.000 dibandingkan harga pada perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp 3.059.000 per gram.
Penurunan juga terjadi pada harga pembelian kembali atau buyback emas Antam.
Pada perdagangan hari ini, harga buyback tercatat sebesar Rp 2.757.000 per gram.
Nilai tersebut turun Rp 65.000 dibandingkan harga sebelumnya yang berada di level Rp 2.822.000 per gram.
Dengan kondisi tersebut, selisih antara harga jual dan harga buyback emas Antam pada hari ini mencapai Rp 247.000 per gram.
Perbedaan harga ini merupakan hal yang umum terjadi dalam transaksi emas batangan, karena mencerminkan biaya produksi, distribusi, serta margin yang diterapkan oleh produsen.
Berikut rincian harga emas batangan Antam sebelum pajak yang dilansir dari laman resmi Logam Mulia:
0.5 gram = Rp 1.552.000
1 gram = Rp 3.004.000
2 gram = Rp 5.948.000
3 gram = Rp 8.897.000
5 gram = Rp 14.795.000
10 gram = Rp 29.535.000
25 gram = Rp 73.712.000
50 gram = Rp 147.345.000
100 gram = Rp 294.612.000
250 gram = Rp 736.265.000
500 gram = Rp 1.472.320.000
1000 gram = Rp 2.944.600.000
Penurunan harga emas domestik ini sejalan dengan dinamika pasar global yang tengah mengalami tekanan.
Salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan emas adalah lonjakan harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran terhadap meningkatnya inflasi di Amerika Serikat.
Kondisi tersebut meningkatkan spekulasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama, bahkan berpotensi kembali menaikkannya jika tekanan inflasi belum mereda.
Kebijakan suku bunga yang tinggi biasanya berdampak pada meningkatnya biaya pinjaman dan menguatnya nilai dolar AS di pasar global.
Situasi ini cenderung memberikan tekanan terhadap harga emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga sehingga menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen investasi berbasis suku bunga.
Selain itu, penguatan dolar AS juga membuat harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga berpotensi menekan permintaan terhadap logam mulia tersebut di pasar internasional.
Meski demikian, emas masih sering dipandang sebagai salah satu aset lindung nilai (safe haven) yang relatif stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Oleh karena itu, pergerakan harga emas tetap menjadi perhatian bagi pelaku pasar maupun masyarakat yang menjadikan logam mulia sebagai instrumen investasi jangka panjang. (iza/han)
Editor : Hany Akasah