Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Diam-diam Dicari Dunia, Tanaman Sumatera Ini Kuasai 80 Persen Pasar Global

Hany Akasah • Jumat, 13 Maret 2026 | 09:38 WIB

Tanaman gambir (Uncaria gambir) dengan daun hijau rimbun dan bunga yang mulai mekar.
Tanaman gambir (Uncaria gambir) dengan daun hijau rimbun dan bunga yang mulai mekar.

RADAR SURABAYA BISNIS – Indonesia kembali membuktikan taringnya sebagai raksasa agrikultur di kancah internasional. 

Kali ini, sorotan tertuju pada gambir (Uncaria gambir), komoditas legendaris asal Sumatera Barat yang kini bertransformasi dari sekadar bahan tradisi menjadi buruan utama industri farmasi dan kosmetik global.

Berdasarkan data perdagangan terbaru, Indonesia saat ini mendominasi sekitar 80 persen pangsa pasar gambir dunia. 

Negara-negara industri besar seperti India, Jepang, Tiongkok, Pakistan, hingga Bangladesh tercatat sebagai tujuan ekspor utama. Pada tahun 2022 saja, nilai ekspor komoditas ini menembus angka sekitar 90 juta dolar AS, dengan harga jual yang kompetitif di kisaran 7.500 hingga 10.000 dolar AS per

Secara tradisional, gambir dikenal sebagai kelengkapan menyirih atau bahan pewarna tekstil. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan mengungkap potensi besar di balik kandungan kimianya. Daun gambir kaya akan katekin, sejenis polifenol dengan aktivitas antioksidan tinggi.

Senyawa ini kini menjadi bahan baku vital dalam industri farmasi untuk produk kesehatan, serta industri kosmetik sebagai zat aktif dalam perawatan kulit (skincare) guna melindungi sel dari radikal bebas. 

Selain itu, kandungan tanin yang tinggi membuat gambir tetap relevan dalam industri penyamakan kulit internasional.

Sumatera Barat Sebagai Sentra Utama

Kabupaten Lima Puluh Kota dan Pesisir Selatan di Sumatera Barat menjadi tulang punggung produksi nasional, menyumbang sekitar 80 persen dari total produksi gambir Indonesia. 

Meski proses produksinya di tingkat petani sebagian besar masih menggunakan metode tradisional—seperti pengempaan dan penjemuran blok gambir—kualitas yang dihasilkan tetap diakui dunia.

Kendati memiliki nilai strategis, gambir sering kali luput dari perhatian jika dibandingkan dengan komoditas besar lainnya seperti sawit atau kopi. 

Padahal, bagi ribuan petani di Sumatera Barat, tanaman yang tahan terhadap kondisi tropis ini adalah tumpuan ekonomi lintas generasi.

Ke depan, dukungan penelitian dan inovasi teknologi diharapkan dapat mendorong hilirisasi gambir di dalam negeri. 

Dengan mengolah gambir menjadi ekstrak katekin murni atau bahan aktif siap pakai, Indonesia berpeluang meningkatkan nilai tambah produk dan memperkuat posisi tawarnya di pasar produk alami dunia.

Editor : Hany Akasah
#sumatera #gambir #ekspor #kosmetik #farmasi