RADAR SURABAYA BISNIS - Bogasari mencatat pertumbuhan penjualan tepung di bulan Januari-Februari 2026 sebesar 2-3 persen.
Sektor UMKM masih menjadi penopang utama penyerapan pasar.
Vice President Marketing Bogasari Wilayah Indonesia Timur, Yulius Ronadi mengatakan, penjualan terigu pada Januari–Februari 2026 mengalami kenaikan signifikan bila dibandingkan periode yang sama di 2025.
“Kalau dibandingkan tahun lalu, di dua bulan pertama tahun ini lumayan ada pertumbuhan, sekitar dua hingga tiga persen,” ungkap Yulius, Rabu (4/3) sore.
Ia menjelaskan, Januari dan Februari sudah mendekati Ramadan.
Lazimnya penyerapan market tepung, memasuki bulan puasa selalu ada kenaikan permintaan,
“Karena mulai banyak yang bikin kukis, roti, maupun kue nering. Otomatis ini membuat permintaan mengalami kenaikan,” sambungnya.
Salah satu varian yang mencatat pertumbuhan paling tinggi adalah tepung terigu Kunci Biru kemasan satu kilogram.
Produk ini banyak digunakan untuk kukis dan aneka kue kering yang mulai diproduksi lebih awal untuk menyambut Ramadan.
“Untuk Kunci Biru kemasan satu kilogram, pertumbuhannya sudah dua digit, di atas 10 persen. Ini terutama terdorong kebutuhan kukis,” jelasnya.
Selain kemasan ritel satu kilogram, permintaan dari industri biskuit juga meningkat. “Khususnya untuk kemasan dua hingga lima kilogram,” imbuh Yulius.
Ditambahkannya, segmen UMKM menjadi penyerap terbesar terigu dengan kontribusi sekitar 60–65 persen dari total penjualan.
Industri besar menyumbang sekitar 20–25 persen, sementara sisanya berasal dari konsumsi rumah tangga.
“UMKM memang paling dominan. Retail juga tinggi, industri juga tetap tumbuh,” ujar Yulius.
Ditambahkannya, untuk wilayah Indonesia Timur, kontribusi terbesar masih berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan porsi sekitar 70 persen.
Selebihnya tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. (nis/opi)
Editor : Nofilawati Anisa