Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Ekspansi Sektor Industri Makin Kuat, PMI Manufaktur Februari Tembus 53,8

Nofilawati Anisa • Selasa, 3 Maret 2026 | 13:38 WIB

FOKUS: Pabrik baja termasuk dalam industri manufaktur, bahkan dikategorikan sebagai industri dasar, berat, dan strategis.
FOKUS: Pabrik baja termasuk dalam industri manufaktur, bahkan dikategorikan sebagai industri dasar, berat, dan strategis.

RADAR SURABAYA - S&P Global Market merilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia di bulan Februari mencapai 53,8 poin.

Angka tersebut merupakan capaian tertinggi dalam waktu hampir dua tahun terakhir, tepatnya sejak Maret 2024.

PMI manufaktur pada bulan Februari naik secara bulanan yang sebelumnya tercatat 52,6 poin.

Capaian ini menandakan ekspansi sektor industri yang semakin kuat pada awal tahun ini.

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan, perbaikan kondisi manufaktur Indonesia kembali menguat pada pertengahan triwulan pertama.

Penguatan itu memberi prospek positif bagi kinerja sektor industri ke depan.

Capaian tersebut menunjukkan kondisi manufaktur nasional masih berada di zona ekspansif, karena indeks berada di atas ambang batas 50 poin, yang menjadi pemisah antara fase ekspansi dan kontraksi.

Kenaikan PMI ini sekaligus mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi dan permintaan di sektor industri.

“Perbaikan kondisi sektor manufaktur Indonesia kembali menguat pada pertengahan triwulan pertama, memberikan prospek positif pada bulan-bulan mendatang,” kata Bhatti dalam keterangannya, Senin (2/3).

Ia menjelaskan kondisi permintaan menunjukkan tren yang semakin positif.

Peningkatan penjualan yang cukup kuat mendorong perusahaan untuk menaikkan tingkat produksi, menambah tenaga kerja, serta meningkatkan aktivitas pembelian bahan baku.

Namun demikian, Bhatti juga mencatat tekanan harga masih cukup tinggi di sektor manufaktur, karena produsen masih menghadapi kenaikan biaya produksi akibat meningkatnya harga bahan baku.

“Tekanan harga masih tetap tinggi, dengan produsen mencatat kenaikan beban biaya rata-rata di tengah laporan kenaikan harga bahan baku. Dengan demikian, tingkat inflasi merupakan yang paling rendah sejak bulan Agustus lalu yang kemudian mendorong kenaikan tingkat rendah pada harga dari pabrik,” jelas Bhatti.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyampaikan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada bulan Februari atau Ramadan 1447 Hijriah, berada di level ekspansi yakni di angka 54,02 poin.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif di Jakarta, Kamis (26/2) menyampaikan berdasarkan hasil survei, dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 19 subsektor berada pada fase ekspansi dan hanya empat subsektor yang mengalami kontraksi.

Meski IKI pada bulan Februari ini sedikit melambat 0,10 poin secara bulanan, menurut Febri, subsektor yang berada pada fase ekspansi berkontribusi sebesar 92,9 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.

Adapun dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah industri pencetakan dan reproduksi media rekaman, serta industri alat angkutan lainnya. (ara/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#industri manufaktur #sektor industri #kinerja #Zona Ekspansif #tenaga kerja #biaya produksi #Purchasing Managers' Index