RADAR SURABAYA BISNIS - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat nilai ekspor produk perikanan Indonesia sepanjang tahun 2025 mencapai USD 6,27 miliar atau sekitar Rp 105,5 triliun (kurs Rp 16.823 per USD).
Angka tersebut meningkat 5,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Plt. Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Machmud mengatakan, Amerika Serikat menjadi pasar utama dengan nilai ekspor sebesar USD 1,99 miliar atau Rp 33,5 triliun (31,8 persen dari total).
Di posisi kedua ada China sebesar USD 1,22 miliar atau Rp 20,5 triliun (19,5 persen).
Diikuti negara-negara anggota ASEAN USD 1 miliar atau Rp 16,8 triliun (16,0 persen), Jepang USD 613,65 juta atau Rp10,3 triliun (9,8 persen), dan Uni Eropa USD 451,72 juta atau Rp7,6 triliun (7,2 persen).
“Nilai ekspor ke Amerika Serikat meningkat 4,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Begitu juga (ekspor, Red) ke ASEAN (16,7 persen), Jepang (2,5 persen), dan Uni Eropa (9 persen),” kata Machmud dikutip, Selasa (17/2/2026).
Ia menjelaskan udang menjadi komoditas ekspor utama dengan nilai USD 1,87 miliar atau Rp 31,5 triliun (29,8 persen dari total ekspor).
Disusul tuna-cakalang sebesar USD 1,04 miliar atau Rp 17,5 triliun (16,5 persen), cumi-sotong-gurita USD 889,73 juta atau Rp 14,9 triliun (14,2 persen), rajungan-kepiting USD 507,74 juta atau Rp 8,6 triliun (8,1 persen), serta rumput laut USD 315,62 juta atau Rp 5,3 triliun (5,0 persen).
Selain peningkatan ekspor, Machmud mengatakan bahwa KKP juga berhasil menekan impor produk perikanan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan produk perikanan sepanjang 2025 mengalami surplus USD 5,60 miliar atau Rp 94,2 triliun, naik 3,0 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kami berkomitmen menjaga Indonesia untuk tetap menjadi negara nett exporter produk perikanan,” tutur Machmud.
Sementara itu, Direktur Pemasaran PDSPKP KKP, Erwin Dwiyana mengatakan jika pihaknya memastikan telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga sekaligus memperluas akses pasar produk perikanan pada 2026.
Langkah tersebut antara lain memberikan fasilitas kepada asosiasi dan eksportir terkait penerapan aturan baru Uni Eropa mengenai Sertifikat Hasil Tangkapan Ikan (SHTI) dan pernyataan pengolahan.
“Selain itu, KKP juga menyiapkan dukungan bagi eksportir dalam menghadapi aturan baru Amerika Serikat (AS) terkait Certificate of Admissibility,” ujarnya.
Dukungan ini penting karena sertifikat tersebut menjadi syarat utama agar produk perikanan Indonesia dapat diterima di pasar AS.
Erwin menambahkan KKP juga melakukan diplomasi terkait pengajuan Comparability Finding (CF) rajungan hasil tangkapan gillnet kepada National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), lembaga pemerintah AS yang mengatur kebijakan kelautan dan perikanan.
Upaya ini dilakukan agar ekspor rajungan Indonesia tetap berlanjut dan tidak terhambat oleh regulasi baru yang diterapkan otoritas setempat.
“Kami mendorong pelaku usaha perikanan untuk tetap berkomitmen menjaga mutu dan keamanan produk, sekaligus mendukung keberlanjutan sumber daya dan daya saing sektor perikanan,” kata Erwin.
Ia menambahkan strategi lainnya mencakup fasilitasi temu bisnis, promosi produk perikanan di ajang internasional, serta misi investasi.
KKP juga mendorong pelaku usaha memanfaatkan tarif preferensi nol persen dalam kerangka Indonesia Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA) untuk produk olahan tuna dan cakalang yang akan berlaku setelah triwulan I/2026.
Erwin menegaskan perundingan penurunan tarif di kawasan non-tradisional seperti Amerika Utara, Asia Selatan, Timur Tengah, Eurasia, hingga Amerika Latin terus dilakukan.
“Kami juga terus melakukan sosialisasi pemanfaatan tarif preferensi hasil perundingan Indonesia kepada pelaku usaha,” imbuhnya. (ara/opi)
Kinerja Produk Perikanan Tahun 2025
*Ekspor Rp 105,5 triliun
*Catat surplus Rp 94,2 triliun
*Surplus naik 3 persen
*Tujuan ekspor:
1. AS Rp 33,5 triliun (31,8 persen)
2. China Rp 20,5 triliun (19,5 persen)
3. ASEAN Rp 16,8 triliun (16,0 persen)
4. Jepang Rp10,3 triliun (9,8 persen)
5. Uni Eropa Rp 7,6 triliun (7,2 persen)
*Kenaikan ekspor:
1. Ke AS naik 4,7 persen
2. ASEAN naik 16,7 persen
3. Jepang naik 2,5 persen
4. Uni Eropa naik 9 persen
*Komoditas ekspor:
1. Udang Rp 31,5 triliun (29,8 persen)
2. Tuna-cakalang Rp 17,5 triliun (16,5 persen)
3. Cumi-sotong-gurita Rp 14,9 triliun (14,2 persen)
4. Rajungan-kepiting Rp 8,6 triliun (8,1 persen)
5. Rumput laut Rp 5,3 triliun (5,0 persen)
Sumber: Diolah
Editor : Nofilawati Anisa