Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Tren Slow Fashion Kian Digemari, Ubah Hobi Crochet Jadi Bisnis Kreatif Beromzet Menjanjikan

Hany Akasah • Rabu, 4 Februari 2026 | 07:22 WIB
CROCHET: Hobi merajut yang kini punya nilai jual dan diminati pasar
CROCHET: Hobi merajut yang kini punya nilai jual dan diminati pasar

RADAR SURABAYA BISNIS – Di tengah dominasi industri pakaian fast fashion, sebuah tren lama kini kembali naik daun dengan wajah baru, crochet atau seni merajut dengan satu pengait. 

Namun, berbeda dengan sebelumnya, crochet masa kini telah bertransformasi dari sekadar hobi pengisi waktu luang menjadi peluang ekonomi kreatif kekinian. 

Fenomena "Slow Fashion" dan meningkatnya apresiasi terhadap produk handmade membuka pintu lebar bagi para pengrajin lokal untuk meraup cuan dari benang dan jarum.

Pasar usaha saat ini menunjukkan pergeseran signifikan menuju produk yang terpersonalisasi. Konsumen, terutama dari kalangan Generasi Z dan Milenial, mulai meninggalkan produk massal pabrikan dan beralih ke barang-barang yang memiliki "cerita" serta keunikan tersendiri. 

Inilah yang membuat produk crochet memiliki peluang nilai tawar yang tinggi di mata konsumen. Produk seperti tas rajut, topi (bucket hat), hingga dekorasi rumah estetis kini menjadi incaran. Salah satu kategori yang paling mendominasi pasar adalah amigurumi—boneka rajut kecil yang sering dijadikan gantungan kunci atau koleksi. 

Produk-produk ini tidak hanya dijual sebagai barang pakai, tetapi juga sebagai karya seni yang dihargai karena tingkat kerumitan dan eksklusivitasnya. Bagi wirausaha pemula, crochet menawarkan hambatan masuk (barrier to entry) yang sangat rendah. Modal awal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis ini berada di kisaran Rp200.000 hingga Rp500.000.

Dana tersebut sudah mencukupi untuk membeli stok benang berbagai warna, alat pengait (hook atau hakpen), jarum sulam, serta aksesori dasar. Meskipun bahan bakunya relatif terjangkau, margin keuntungan dalam bisnis ini bisa sangat besar. 

Hal ini disebabkan oleh cara penentuan harga yang tidak hanya berdasarkan material, tetapi juga pada jam kerja dan tingkat keahlian (skill) perajin. 

Sebuah karya yang rumit bisa terjual dengan harga tinggi karena konsumen memahami bahwa mereka membayar untuk ketelitian dan kesabaran sang kreator.

Irene Sambenthiro, seorang praktisi crochet asal Yogyakarta, merupakan salah satu contoh nyata bagaimana konsistensi bisa membuahkan hasil bisnis yang nyata. 

Melalui labelnya, Puffity Puff, Irene membuktikan bahwa ketertarikan publik terhadap produk rajutan sangat besar jika dikelola dengan strategi yang tepat. Awalnya, Irene hanya merajut untuk kebutuhan pribadi. Namun, setelah karyanya mendapatkan perhatian di media sosial, ia mulai menerima banyak pesanan. 

"Waktu itu aku bikin buat diri sendiri, ternyata teman-teman banyak yang penasaran dan mau pesan. Akhirnya iseng buat IG sendiri buat showcase," ungkap Irene.

Sejak tahun 2022, Irene bahkan memperluas jangkauan bisnisnya dengan membuka kelas workshop merajut di berbagai kota seperti Yogyakarta dan Solo, membuktikan bahwa peluang pendapatan tidak hanya datang dari penjualan produk fisik, tetapi juga dari bagi-pakai ilmu pengetahuan.

Meski peluangnya besar, dunia bisnis crochet bukan tanpa tantangan. Salah satu kesalahan fatal yang sering dilakukan pemula adalah menjual produk terlalu murah demi mengejar volume penjualan. Irene mengingatkan bahwa praktik ini dapat merusak harga pasar dan membuat konsumen kurang menghargai kualitas produk tangan.

"Menjual terlalu murah membuat customer jadi tidak menghargai handmade product. Kita butuh waktu untuk menstabilkan skill sampai produknya bagus," tegas Irene. 

Oleh karena itu, bagi perajin yang ingin menjadikan crochet sebagai pendapatan utama, sangat penting untuk memiliki rencana bisnis (business plan) dan target yang jelas agar usaha tetap berkelanjutan.

Di era digital, keberhasilan bisnis crochet sangat bergantung pada visual. Platform seperti Instagram dan TikTok menjadi etalase utama untuk menampilkan detail jahitan dan keunikan desain.

Dengan tren yang terus berkembang, crochet bukan lagi sekadar warisan nenek moyang, melainkan peluang bisnis modern yang menggabungkan kreativitas, ketelitian, dan profitabilitas di industri kreatif Indonesia.

Editor : Hany Akasah
#millennial #rajut amigurumi #bisnis rajut #Gen Z #Crochet #slow fashion