Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Dukung Perluasan Akses Penanganan Kanker di Indonesia, Kalbe Bangun Fasilitas Produksi Radiofarmaka di Jawa Timur

Nofilawati Anisa • Selasa, 16 Desember 2025 | 06:10 WIB
BAKTI: Kepala BPOM Taruna Ikrar (tiga dari kiri) didampingi Direktur PT Kalbe Farma Tbk. Mulie Lie (dua dari kiri), menyampaikan apresiasinya atas pembangunan fasilitas produksi radiofarmaka di Jatim
BAKTI: Kepala BPOM Taruna Ikrar (tiga dari kiri) didampingi Direktur PT Kalbe Farma Tbk. Mulie Lie (dua dari kiri), menyampaikan apresiasinya atas pembangunan fasilitas produksi radiofarmaka di Jatim

RADAR SURABAYA BISNIS – Kabar bahagia datang dari industri kesehatan Tanah Air.

PT Kalbe Farma Tbk. melalui anak usaha PT Global Onkolab Farma (GOF) memulai operasionalisasi fasilitas produksi radioisotop dan radiofarmaka, khususnya Fluorodeoxyglucose (FGD), untuk keperluan deteksi dini penyakit kanker.

Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Mulia Lie mengatakan, fasilitas produksi radioisotop dan radiofarmaka ini merupakan bagian dari komitmen Kalbe untuk terus memperluas akses kesehatan bagi masyarakat, terutama dalam penanganan penyakit kanker.

“Saat ini, PT Global Onkolab Farma telah membangun dua fasilitas, yaitu di Jakarta dan Sidoarjo,” ujar Mulia Lie di sela peresmian fasilitas produksi radioisotope dan radiofarmaka, Senin (15/12).

Mulia Lie memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk support yang telah diberikan oleh para pemangku kepentingan.

Khususnya Kementerian Kesehatan RI, Badan POM RI dan Bapeten RI yang telah sangat membantu, gterutama dalam mengakselerasi perijinan yang diperlukan untuk pendirian fasilitas ini dengan tetap memperhatikan aspek compliance dan safety secara ketat.

“Sertifikasi CPOB dari Badan POM diterima dalam 33 hari kerja dan NIE diterima dalam waktu lima hari kerja. Begitu juga ijin operasional dari Bapeten diterima dalam 45 hari kerja,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Mulia Lie mengatakan bahwa fasilitas produksi radiofarmaka yang memproduksi Fluorodeoxyglucose (FGD) ini sangat diperlukan untuk menunjang layanan pemeriksaan Positron Emission Tomography and Computed Tomography Scanning (PET/CT-Scan) yang ada di rumah sakit.

Ia berharap produksi radiofarmaka Kalbe dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah sakit dalam pemeriksaan PET/CT-Scan sekaligus membantu memperluas akses ke lebih banyak pasien kanker untuk menjalani terapi kanker secara komprehensif.

“Radiofarma produksi dalam negeri ini merupakan wujud nyata kontribusi perusahaan untuk kemandirian kesehatan di Indonesia. Melalui fasilitas produksi di Sidoarjo Jawa Timur ini, kami ingin memastikan bahwa rumah sakit di Jawa Timur, Bali, hingga Sulawesi, dapat memperoleh radiofarmaka secara lebih cepat dan terjangkau,” jelas Mulia Lie.

PET/CT-Scan adalah pemeriksaan pencitraan medis tingkat lanjut yang memberikan informasi mendetail tentang fungsi organ atau sistem dalam tubuh, khususnya untuk mendeteksi adanya penyakit kanker.

Pelayanan PET/CT-Scan berkaitan erat dengan ketersediaan radiofarmaka, salah satunya FDG (Fluorodeoxyglucose).

Sayangnya, fasilitas produksi produk radioisotop dan radiofarmaka dalam negeri yang tersertifikasi masih sangat terbatas.

Kanker menjadi salah satu penyebab kesakitan dan kematian utama di Indonesia, tetapi sebagian besar penderita kanker datang ke rumah sakit ketika memasuki stadium akhir.

Untuk itu, perlu upaya memperkuat deteksi dini terhadap penyakit kanker.

“Saat ini Kalbe telah menjalin kerja sama dengan sejumlah rumah sakit untuk pemanfaatan radiofarmaka, tidak terbatas pada tatalaksana kanker/onkologi saja, namun diharapkan dapat digunakan untuk penilaian jantung, neurologi, alzheimer, gangguan psikiatri/mental serta di bidang-bidang lain di dunia kedokteran,” tutur Mulia Lie.

“Kerja sama antara Kalbe dengan pihak rumah sakit dapat memberikan nilai tambah pada layanan Oncology Center, yang ada di rumah sakit, seperti penyediaan dan pengembangan berbagai macam obat kemoterapi, layanan radioterapi dengan mempersiapkan penyediaan radiofarmaka untuk mendukung layanan PET/CT-Scan ke depannya, serta layanan kanker lainnya seperti produk nutrisi untuk perawatan kanker,” imbuh Mulia Lie.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), Taruna Ikrar, M.Biomed, PhD memberikan apresiasinya p[ada Kalbe.

Menurutnya, apa yang dilakukan Kalbe adalah langkah besar dalam dunia kesehatan nasional.

“Langkah mulia ini akan membantu deteksi penyakit kanker bisa dilakukan lebih cepat,” ujarnya.

Taruna menyebut ada sekitar 3 juta penderita kanker di Indonesia, dengan 433 ribu kasus baru setiap tahunnya.

Jumlah yang besar itu tentu saja harus dibarengi dengan fasilitas-fasilitas terkait agar bisa tertangani dengan maksimal.

“Di wilayah Barat, tahun lalu Kalbe sudah membangun fasilitas ini (produksi radioisotop dan radiofarmaka, khususnya Fluorodeoxyglucose (FGD), Red) di Jakarta. Nah, sekarang Surabaya juga sudah memilikinya. Ini akan mempercepat penanganan penyakit kanker di wilayah Indonesia Timur,” jelas Taruna. (nis/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#produksi #Taruna Ikrar #penyakit #bpom #Mulie Lie #radioisotop #kanker #PT Kalbe Farma Tbk #radiofarmaka