RADAR SURABAYA BISNIS - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto menegaskan, Kadin Jatim berkomitmen mendorong transformasi digital dan adopsi teknologi Industri 5.0 di sektor pergulaan nasional.
Langkah ini diyakini menjadi kunci dalam mewujudkan industri gula yang modern, efisien, dan berkelanjutan, sejalan dengan peran strategis Jawa Timur sebagai penghasil gula terbesar di Indonesia.
Teknologi seperti sensor tanah, traktor otomatis, pemantauan produksi berbasis Internet of Things (IoT), hingga digitalisasi rantai pasok akan mempercepat proses modernisasi dari hulu hingga hilir.
Pameran Sugarex Indonesia 2025 menjadi momentum penting bagi arah transformasi tersebut.
Lebih dari 80 peserta pameran dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Jerman, India, Korea, dan Tiongkok menampilkan inovasi terkini untuk mendukung rantai nilai industri gula.
Pameran ini juga dihadiri sekitar 3.000 pelaku bisnis dan pengambil keputusan dari berbagai wilayah Asia, terutama Jawa Timur.
Menurut Group CEO Fireworks Trade Media, Kenny Yong, gelombang teknologi berikutnya akan menjadi penentu masa depan industri gula Indonesia.
“Solusi AI dan Industri 5.0 akan membantu industri gula Jawa Timur mencapai efisiensi yang lebih besar, memperluas kapasitas produksi, dan mengadopsi praktik berkelanjutan agar tetap kompetitif secara global,” ujarnya.
Kenny menambahkan, forum ini mempertemukan penyedia teknologi global dengan pemilik pabrik, asosiasi, hingga lembaga riset.
Hal ini diharapkan melahirkan kolaborasi yang mempercepat adopsi teknologi modern dalam proses produksi gula nasional.
Dukungan riset pun mengalir dari kalangan akademisi dan lembaga penelitian.
Kepala Divisi Bisnis Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), Risvan Kuswurjanto, menegaskan bahwa riset merupakan dasar dari seluruh inovasi industri.
“Kami mendukung penuh transformasi ini karena teknologi baru, seperti traktor otomatis dan sistem produksi pabrik berbasis efisiensi berasal dari riset mendalam. Kami juga terus mengembangkan varietas benih tebu unggul serta riset produk hilir seperti minuman dari tebu,” jelasnya.
Kadin Jatim menilai, kolaborasi antara dunia usaha, riset, dan pemerintah menjadi prasyarat utama keberhasilan digitalisasi industri gula.
Organisasi ini juga mendorong adanya pelatihan bagi petani tebu untuk memahami penerapan teknologi baru serta membuka akses kemitraan dengan penyedia solusi digital dari dalam dan luar negeri.
Editor : Nofilawati Anisa