RADAR SURABAYA BISNIS - Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan pupuk bersubsidi pada 2025 dialokasikan 9,5 juta ton, sudah bisa disalurkan dan ditebus mulai 1 Januari 2025.
Sementara itu Jawa Timur mendapatkan jatah 1,8 juta ton, jumlah ini turun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 1,9 juta ton.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa petani tidak boleh dipersulit untuk mengakses sarana dan prasarana (sarpras) seperti pupuk.
Khusus untuk pupuk bersubsidi, Kementan telah mengambil upaya strategis untuk menyederhanakan alur pendistribusiannya.
“Aturan pupuk sudah kami tanda tangani dan 1 Januari 2025 petani sudah bisa langsung gunakan, jadi ke petani langsung. Intinya petani tidak boleh dipersulit,” katanya, Rabu (1/1/2015).
Meski alokasi pupuk bersubsidi untuk Jatim turun, namun sebagai salah satu daerah lumbung pangan, masih menjadi penerima terbanyak provinsi yang menerima bantuan pada tahun 2025.
Diketahui Kabupaten Tuban menjadi daerah penerima pupuk bersubsidi, yakni 150.474 ton. Kemudian Kabupaten Lamongan mendapatkan 147.860 ton.
Pasalnya dua kabupaten ini dikenal sebagai penghasil padi terbesar di Jatim.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Heru Suseno menjelaskan bahwa penyaluran pupuk dilakukan pada awal tahun.
Menurutnya untuk jenis urea, pihaknya mendapatkan 940.258 ton tahun ini.
“Pemprov terus berkoordinasi dengan pemkab/pemkot terkait pemberian pupuk bersubsidi,” katanya.
Heru menegaskan, pupuk subsidi memang dari pemerintah pusat, akan tetapi Pemprov Jatim pernah memberikan pupuk gratis kepada petani.
“Jawa Timur sebagai provinsi berstatus lumbung pangan nasional, kami ingin memberikan perhatian lebih kepada petani,” jelasnya.
Menurutnya tahun 2020 Pemprov Jatim tercatat pernah mendistribusikan pupuk cair secara gratis kepada para petani.
“Bantuan pupuk cair sebanyak 99.155 liter senilai Rp 9 miliar lebih itu didistribusikan kepada 620 kelompok tani seluruh Jawa Timur. Jumlah itu belum termasuk bantuan pupuk gratis untuk tanaman perkebunan,” pungkasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa