radarsurabayabisnis.id - Bangunan tua di Jalan Tegalsari Nomor 50, Surabaya, kini memiliki wajah baru. Setelah melalui proses pemugaran dan restorasi, bangunan yang diperkirakan berdiri pada awal abad ke-20 itu kini menjadi Epilogue, tempat yang memadukan konsep coffee, dining, dan social house.
Di balik fungsi barunya sebagai tempat nongkrong, bangunan tersebut menyimpan jejak sejarah kawasan Tegalsari-Darmo. Sejak era kolonial, kawasan itu dikenal sebagai salah satu wilayah hunian elite di Surabaya.
Baca Juga: ASN Surabaya Akan Pindah Kantor ke Balai RW, Bukan Cuma Urus KTP dan Tanpa Rapat Bertele-tele
Bangunan ini diperkirakan dibangun sekitar 1910-1930 sebagai villa atau kediaman pribadi warga Eropa. Arsitekturnya mencerminkan gaya Indisch yang menyesuaikan bangunan dengan iklim tropis.
Arsitektur Klasik dan Lantai Keramik yang Masih Dipertahankan
Ciri khas bangunan terlihat dari bentuk sudutnya yang menyerupai segi delapan dengan atap kerucut. Jendela-jendela tinggi, pintu berukuran besar, teras terbuka, serta langit-langit yang tinggi membuat sirkulasi udara dan pencahayaan alami menjadi bagian penting dari desain.
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah lantai keramik bermotif geometris hitam-putih. Kesan klasik masih terasa kuat di sejumlah bagian bangunan.
Kusen kayu jati dan detail plafon bergaya lama juga masih dipertahankan. Elemen-elemen tersebut menjadi bagian penting dari karakter bangunan meski kini telah memiliki fungsi baru sebagai tempat usaha.
Baca Juga: Warga Surabaya Waspada! Banjir Rob Diprediksi Landa Pesisir 11 Hari ke Depan
Pada masa pendudukan Jepang, seperti sejumlah bangunan besar lainnya di Surabaya, bangunan ini diduga pernah dimanfaatkan untuk kepentingan pemerintahan atau militer. Namun, belum ditemukan catatan spesifik mengenai pemilik awal bangunan tersebut.
Dari Hunian Warga Eropa hingga Menjadi Epilogue
Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut tetap digunakan sebagai rumah tinggal. Kepemilikannya kemudian berpindah, seperti yang terjadi pada banyak rumah sejenis di kawasan Surabaya lama.
Memasuki dekade 2020-an, bangunan tersebut dipugar dan dihidupkan kembali sebagai Epilogue.
Perubahan fungsi tersebut menjadi bagian dari fenomena menarik di Surabaya. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah bangunan tua yang sebelumnya kusam, terbengkalai, bahkan mangkrak mulai direnovasi dan diberi fungsi baru.
Ada yang berubah menjadi kafe, restoran, ruang kreatif, hingga tempat berkumpul anak muda.
Bangunan lama tidak sekadar dipertahankan sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga dihidupkan kembali melalui aktivitas baru. Kehadiran Epilogue di Jalan Tegalsari Nomor 50 menjadi salah satu contoh bagaimana bangunan bersejarah dapat memperoleh kehidupan baru tanpa menghilangkan sejumlah karakter arsitektur lamanya.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya