radarsurabayabisnis.id - Industri makanan dan minuman (mamin) Indonesia terus mencatatkan kinerja positif di tengah persaingan pasar global. Sepanjang semester I-2026, nilai ekspor mamin mencapai US$24,61 miliar atau sekitar Rp435,9 triliun.
Nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan impor yang mencapai US$7 miliar. Alhasil, neraca perdagangan industri mamin Indonesia mencatat surplus US$17,57 miliar atau sekitar Rp311 triliun sepanjang Januari-Juni 2026.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan, kinerja ekspor tersebut menunjukkan industri mamin masih memiliki daya saing kuat di pasar internasional.
Baca Juga: Harga Sewa Stan Kecil di KBS Surabaya Rp600 Ribu Sehari, Harga Makanan Jadi Sorotan
“Tren positif ini berlanjut hingga semester pertama tahun 2026, dengan kinerja ekspor makanan dan minuman mencapai USD 24,61 miliar berbanding impor US$7,0 miliar,” ujar Faisol, dikutip Jumat (18/9).
Ekspor Mamin Cetak Surplus Rp311 Triliun
Capaian semester I-2026 melanjutkan tren penguatan perdagangan industri mamin dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2025, ekspor mamin mencatat rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir dengan nilai US$49,5 miliar. Pada tahun yang sama, surplus perdagangan sektor tersebut mencapai US$36,1 miliar.
Menurut Faisol, ekspor mamin Indonesia masih ditopang sejumlah komoditas utama. Di antaranya minyak kelapa sawit, produk perikanan, margarin, dan kakao olahan.
Baca Juga: Penjualan Eceran Juli 2026 Diprakirakan Naik, Sektor Makanan dan Suku Cadang Jadi Penopang
Sementara itu, impor mamin didominasi produk makanan olahan dan bahan baku yang dibutuhkan industri dalam negeri.
Beberapa komoditas yang banyak diimpor antara lain bungkil minyak dan residu pengepresan, susu bubuk, serta daging.
Indonesia Jadi Eksportir Mamin Terbesar Kedua di Asia
Struktur perdagangan tersebut menunjukkan industri mamin tidak hanya mengandalkan ekspor produk jadi, tetapi juga masih membutuhkan pasokan sejumlah bahan baku dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan produksi domestik.
Faisol menilai, kinerja perdagangan tersebut mencerminkan daya saing industri mamin Indonesia di pasar internasional.
Berdasarkan data yang disampaikannya, Indonesia merupakan eksportir produk makanan dan minuman terbesar kedua di Asia setelah Tiongkok, dengan pangsa sekitar 23 persen dari pasar ekspor mamin Asia.
Posisi tersebut menempatkan Indonesia di atas sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam, dari sisi nilai ekspor mamin.
“Jika kita lihat dalam peta persaingan global, capaian ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai eksportir produk makanan dan minuman terbesar kedua di kawasan Asia, hanya berada di bawah Tiongkok,” kata Faisol.
Mamin Jadi Mesin Ekspor dan Devisa Indonesia
Dengan nilai ekspor mencapai US$24,61 miliar hanya dalam enam bulan pertama 2026, industri mamin menjadi salah satu sektor manufaktur yang berperan penting dalam menopang kinerja perdagangan Indonesia.
Besarnya nilai ekspor juga menunjukkan peran industri mamin sebagai salah satu sumber devisa melalui pasar global.
Di tengah tingginya kebutuhan bahan baku impor untuk sejumlah produk, penguatan industri mamin tetap menjadi bagian penting dalam meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri dan memperluas pasar ekspor Indonesia.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya