radarsurabayabisnis.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menghantam sektor pariwisata Jawa Timur. Tingkat okupansi hotel di sejumlah daerah tujuan wisata turun tajam, terutama wilayah yang berdekatan dengan titik bencana.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jatim Dwi Cahyono mengatakan, tingkat keterisian kamar hotel di Jawa Timur secara umum berada di kisaran 20 hingga 25 persen. Namun, penurunan mulai terasa signifikan sejak pekan ini.
Sejumlah daerah yang terdampak antara lain Malang, Kota Batu, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.
"Di awal belum terasa karena wisatawan sudah memesan sejak pekan sebelumnya. Namun, memasuki pekan ini, okupansi turun dari rata-rata 60 persen menjadi 40 persen," ujar Dwi, Selasa (15/9).
Baca Juga: Kebakaran Gunung Argopuro Meluas, BBKSDA Jatim Tutup Seluruh Jalur Pendakian
Lumajang dan Banyuwangi Terpukul Paling Parah
Menurut Dwi, tekanan paling besar dirasakan daerah yang lokasinya berdekatan dengan titik karhutla. Lumajang dan Banyuwangi menjadi dua wilayah yang mengalami penurunan aktivitas wisata cukup drastis.
"Di wilayah tersebut, penurunan aktivitas wisata dan okupansi bahkan sampai menembus angka 60–80 persen," ungkapnya.
Baca Juga: Kebakaran Bromo Makin Meluas, 1.120 Hektare Terbakar, 5 Titik Api Masih Terdeteksi
Dwi menilai persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan penutupan sejumlah destinasi wisata. Faktor keamanan perjalanan turut memengaruhi keputusan wisatawan.
Ketidakpastian kondisi di lapangan membuat wisatawan, terutama rombongan, memilih menunda perjalanan.
"Bisnis pariwisata ini sangat bergantung pada kepercayaan. Bagi wisatawan, khususnya rombongan, ketidakpastian ini berisiko tinggi," katanya.
Wisatawan Mulai Tunda Perjalanan, PHRI Khawatir Pembatalan
Saat ini, sebagian wisatawan masih memilih menjadwalkan ulang perjalanan. Namun, PHRI Jatim khawatir penundaan tersebut berubah menjadi pembatalan jika kondisi karhutla dan ketidakpastian keamanan berlanjut hingga pekan depan.
Dampak karhutla juga merembet ke sektor lain dalam rantai ekonomi pariwisata. Biro perjalanan, restoran, objek wisata hingga pelaku UMKM lokal ikut terdampak akibat berkurangnya aktivitas wisatawan.
Kondisi tersebut membuat dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh pengelola destinasi atau hotel, tetapi juga pelaku usaha yang menggantungkan pendapatan dari kunjungan wisatawan.
PHRI Dorong Destinasi Alternatif dan Stimulus
Karena itu, PHRI Jatim mendorong pemerintah daerah segera memberikan intervensi untuk menekan dampak ekonomi. Salah satu langkah yang diusulkan berupa insentif bagi pelaku usaha serta penyediaan destinasi alternatif bagi wisatawan.
Skema tersebut dapat berupa paket wisata, potongan tiket masuk destinasi alternatif, hingga subsidi atau stimulus bagi pelaku usaha terdampak.
"Ketika destinasi utama ditutup karena kondisi alam, harus ada alternatif destinasi pengganti dengan kompensasi. Misalnya diskon tiket atau paket khusus," ujarnya.
Menurut Dwi, keberadaan destinasi alternatif dapat menjaga minat wisatawan sekaligus memberi ruang bagi pelaku usaha pariwisata untuk mempertahankan aktivitas bisnis di tengah dampak karhutla.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya