Kunjungan Wisman Tembus 8,98 Juta, Sektor Pariwisata Indonesia Raup Devisa Rp145 Triliun

Hany Akasah • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 11:38 WIB
Pariwisata RI tetap tumbuh positif hingga Juli 2026 berkat ketangguhan hadapi krisis dan inovasi.
Pariwisata RI tetap tumbuh positif hingga Juli 2026 berkat ketangguhan hadapi krisis dan inovasi.

RADAR SURABAYA BISNIS – Sektor pariwisata Indonesia kembali menunjukkan ketangguhan (resiliensi) yang luar biasa di sepanjang paruh pertama hingga Juli 2026. 

Di tengah situasi geopolitik global yang dinamis dan sejumlah bencana alam yang melanda tanah air, industri pariwisata nasional tetap mencatatkan pertumbuhan yang positif.

Menteri Pariwisata (Menpar), Widiyanti Putri Wardhana, yang didampingi Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa, mengungkapkan bahwa indikator utama pariwisata terus merangkak naik. 

Baca Juga: Laba Bank Jatim Melonjak 53,4 Persen Jadi Rp1,2 Triliun, Kredit Tembus Rp111 Triliun

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada periode Januari hingga Juli 2026 mencapai 8,98 juta kunjungan, atau tumbuh 5,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Capaian ini tentu patut kita syukuri. Hal ini menunjukkan bahwa strategi diversifikasi pasar yang dilakukan Kementerian Pariwisata berjalan secara efektif di tengah ketidakpastian global," ujar Menpar Widiyanti dalam Laporan Bulanan Kinerja Kemenpar di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Pertumbuhan ini berdampak langsung pada perekonomian nasional. Pada Semester I 2026, devisa pariwisata berhasil menembus 8,43 miliar dolar AS atau setara Rp145,13 triliun. 

Baca Juga: BMKG Ungkap Abu Vulkanik Anak Krakatau Tak Lagi Terpantau di Wilayah RI

Mobilitas wisatawan nusantara (wisnus) juga menjadi penyokong utama dengan capaian 737,85 juta perjalanan. Tingkat okupansi hotel pun terpantau stabil di angka 49,13 persen.

Pencapaian impresif tersebut tidak diraih tanpa rintangan. Sepanjang 2026, sektor pariwisata sempat diuji oleh serangkaian bencana alam, mulai dari kebakaran hutan di Bromo, gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores yang berdampak pada Labuan Bajo, hingga kebakaran di Desa Adat Sade, Lombok. 

Selain itu, erupsi Gunung Anak Krakatau juga sempat membatalkan 4.132 penerbangan yang berdampak pada 450 ribu penumpang.

Baca Juga: iPhone 18 Pro dan 18 Pro Max Resmi Dirilis, Ini Spesifikasinya

Namun, respons cepat dan mitigasi krisis menjadi kunci. Dalam kasus erupsi, Menpar langsung menginstruksikan Online Travel Agent (OTA) dan biro perjalanan untuk memberlakukan status force majeure, sehingga wisatawan berhak atas refund 100 persen atau reschedule tanpa biaya tambahan.

"Bencana mengingatkan kita bahwa ketangguhan harus menjadi bagian dari pembangunan pariwisata. Prinsipnya jelas, melindungi manusia terlebih dahulu, mempercepat pemulihan, dan menjaga kepercayaan wisatawan," tegas Menpar.

Selain ketangguhan destinasi, pariwisata Indonesia pada 2026 juga didorong oleh penyelenggaraan event berkualitas. Salah satu agenda berskala internasional yang dinantikan adalah konser "Andrea Bocelli: Romanza 30th Anniversary World Tour" yang akan digelar di Candi Borobudur, Magelang, dan Jakarta pada 31 Oktober hingga 3 November 2026.

Baca Juga: Viral Rujak Cingur di Surabaya Dicampur Kupang, Isi Melimpah Harga Mulai Rp30 Ribu

Event internasional tersebut diproyeksikan mampu mendatangkan dampak ekonomi sekitar 44 juta dolar AS atau setara Rp792 miliar, sekaligus menjadi ajang promosi wajah pariwisata Indonesia ke mata dunia.

Ke depan, Kemenpar menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor. Mengingat pariwisata bukan sekadar mengejar angka kunjungan, melainkan bagaimana menciptakan nilai ekonomi yang luas, membuka lapangan kerja, dan memastikan keselamatan wisatawan tetap menjadi prioritas utama.

Baca Juga: Tren Ekspor Pakan Hewan Naik, Mendag Yakin Produk Lokal Mampu Bersaing di Kancah Global

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
pariwisata bencana alam wisman devisa pariwisata kunjungan