radarsurabayabisnis.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo terus meluas. Hingga Jumat (14/8), luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 1.120,3 hektare dan masih dalam proses pendataan ulang.
Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Jawa Timur Jumadi mengatakan luas kebakaran tersebut lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi cuaca yang panas dan kering membuat proses pemadaman semakin sulit.
“Sekitar 1.120,3 hektare yang terbakar. Saat ini belum bisa dilakukan modifikasi cuaca karena belum tersedianya awan potensial,” kata Jumadi, Jumat (14/8).
Cuaca Panas dan Angin Bikin Api Cepat Menyebar
Menurut Jumadi, kawasan Bromo saat ini didominasi vegetasi savana yang sangat kering. Suhu panas ditambah hembusan angin membuat api lebih mudah menjalar ke area lain.
Baca Juga: Bromo Terbakar, Wisatawan Bakal Dilarang Bawa Rokok dan Vape
Situasi tersebut menjadi tantangan besar bagi tim gabungan yang masih berupaya mengendalikan kebakaran.
Selain faktor cuaca, kondisi medan juga menyulitkan proses pemadaman. Sejumlah titik api berada di kawasan terjal dan sulit dijangkau melalui jalur darat.
Lautan Pasir Jadi Tantangan Pemadaman
Jumadi menjelaskan, karakter Lautan Pasir Bromo yang gembur membuat mobilitas kendaraan dan personel menuju titik kebakaran tidak mudah.
Sementara itu, upaya pemadaman menggunakan metode water bombing juga belum dapat dilakukan secara optimal karena sangat bergantung pada kondisi cuaca dan faktor keselamatan penerbangan.
“Beberapa lokasi memang sulit dijangkau. Karena itu, penanganan dilakukan secara bersama-sama dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia,” katanya.
Baca Juga: Kebakaran Gunung Bromo Meluas Capai 742 Hektare, Ancam Permukiman Warga dan Wisata Ditutup Total
Lima Titik Api Masih Terdeteksi
Ketua Tim Pusat Pengelola Data dan Informasi/Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) PB BPBD Jawa Timur Muhammad Amrul mengatakan, berdasarkan pemantauan Kamis (13/8/2026) pukul 12.25 WIB, masih terdapat lima titik api yang terpantau di kawasan Bromo.
Titik api tersebut terdeteksi melalui drone Pusgeosau TNI-AU. Tim gabungan terus melakukan pemadaman dari jalur darat menggunakan metode manual atau gepyok.
Sejumlah peralatan juga dikerahkan, mulai dari mobil pemadam kebakaran, mobil tangki air, hingga kendaraan taktis Komodo.
Penyisiran kawasan terus dilakukan untuk memastikan api tidak kembali menjalar ke wilayah lain.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya