RADAR SURABAYA BISNIS — Sektor pariwisata Indonesia menunjukkan tingkat resiliensi yang tinggi dengan mencatatkan rapor biru sepanjang Semester I tahun 2026.
Berbagai indikator utama, mulai dari peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), lonjakan wisatawan nusantara (wisnus), hingga realisasi investasi, menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan, capaian ini merupakan hasil dari strategi adaptif pemerintah, termasuk penyesuaian pasar (market pivot), penguatan promosi ke negara dengan potensi pertumbuhan tinggi, serta pengembangan destinasi berkualitas.
Baca Juga: Tembus Lebih dari 128 Ribu Pendaftar, Peserta dari 14 Negara Ikut War Tiket HUT ke-81 RI
"Capaiannya tidak terjadi dengan sendirinya. Pemerintah terus menjalankan strategi adaptif, menjaga pergerakan wisatawan di dalam negeri, serta mengembangkan produk yang semakin berkualitas," ujar Menpar Widiyanti di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisman periode Januari hingga Juni 2026 mencapai 7,45 juta kunjungan.
Angka ini tumbuh 5,71 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan wisman tertinggi kedua di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: BGN Wajibkan Wadah Makan Bergizi Gratis Cantumkan Batas Waktu Konsumsi Mulai Pekan Depan
Kualitas aktivitas wisata juga terbukti meningkat. Rata-rata pengeluaran wisman per kunjungan naik 6,36 persen menjadi sekitar 1.313 dolar AS.
Hal ini sejalan dengan mobilitas wisnus yang mencapai 630,41 juta perjalanan (naik 2,71 persen), sehingga Indonesia berhasil membukukan surplus kunjungan pergerakan wisatawan sebesar 2,99 juta.
Dari sisi investasi, sektor pariwisata berhasil merealisasikan dana sebesar Rp39,68 triliun, meningkat 16,64 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Pemerintah Tajamkan Sasaran MBG: Prioritas untuk Ibu Hamil, Balita, dan Daerah 3T
Realisasi ini didominasi oleh Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp27,48 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp12,19 triliun. Peningkatan ini berdampak langsung pada terbukanya lapangan kerja baru dan penguatan rantai pasok lokal.
Secara keseluruhan, sektor pariwisata turut memberikan efek ganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional dengan menyumbang sekitar 0,86 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan II 2026 yang berada di angka 5,29 persen.
Ke depan, Kementerian Pariwisata akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor—termasuk penataan wilayah Bali, revalidasi UNESCO Global Geopark di Belitung dan Ijen, hingga penguatan event daerah berskala internasional—dengan tata kelola yang transparan agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.
Baca Juga: Takut Data Usaha Berujung Pajak, UMKM Mulai Hindari Sensus Ekonomi
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis