RADAR SURABAYA BISNIS — Setelah bertahun-tahun olahan matcha mendominasi industri makanan dan minuman kekinian, peta tren kuliner pada pertengahan 2026 mulai bergeser.
Olahan umbi berwarna ungu cerah asal Filipina, yang dikenal dengan nama ube, kini kian melejit dan menggeser perhatian para pecinta kuliner global maupun lokal.
Rasa manis alami yang lembut, gurih, serta sentuhan aroma vanila menjadikan ube mudah diterima oleh lidah masyarakat luas. Tak hanya faktor rasa, warna ungu pekat yang estetis dan menonjol di media sosial turut mendorong fenomena ini.
Baca Juga: Dukung Program 3 Juta Rumah, Pemerintah Sederhanakan Syarat Alas Hak Bantuan Bedah Rumah BSPS
Direktur Garudafood, Fransiskus Johny Soegiarto, membenarkan pergeseran preferensi konsumen tersebut. Menurutnya, minat masyarakat terhadap rasa camilan terus berkembang pesat dari waktu ke waktu.
"Dulu, orang-orang cari camilan rasa cokelat, kemudian beri-berian. Terus terakhir ada matcha, dan sekarang mulai ube (ubi ungu)," kata Fransiskus dalam wawancara media di Jakarta Selatan, Rabu (15/7/2026).
Melihat momentum tersebut, industri makanan ringan nasional mulai beradaptasi dengan mengembangkan varian rasa ubi ungu untuk menjawab permintaan pasar.
Baca Juga: Sudaryono Resmi Pimpin BGN, Ini Alasan Nanik Sudaryati Deyang Mundur
Kendati demikian, Brand Equity Director Garudafood, Niken Esti, menegaskan bahwa adopsi tren tidak dilakukan secara tergesa-gesa.
Setiap ide produk baru tetap melewati pengujian konsumen untuk mengukur tingkat penerimaan pasar sebelum diproduksi secara massal.
Tak hanya di lini makanan ringan, kepopuleran ube juga merambah ranah patiseri dan kafe. Berbagai kreasi baru bermunculan, mulai dari ube latte, donat mochi, cheesecake, pancake, hingga kombinasi unik seperti ube matcha.
Baca Juga: DPR Resmi Sahkan UU Pusat Finansial Internasional, Fokus Bidik Dana Global
Di sejumlah kawasan kuliner di Jakarta, sajian paduan matcha dan ube menjadi salah satu menu paling diminati anak muda.
Pasar internasional pun mencatat lonjakan permintaan ube yang signifikan. Jaringan kedai kopi global di Amerika Serikat dan Eropa mulai mengadopsi rasa ini sebagai menu musiman.
Di balik tingginya antusiasme pasar, tren ube membawa tantangan tersendiri pada rantai pasok pertanian. Pakar nutrisi dari Federal Centre for Nutrition, Britta Klein, mengingatkan bahwa lonjakan permintaan pangan tertentu dalam waktu singkat dapat memberikan tekanan pada petani serta mengganggu struktur pertanian yang telah terbentuk di daerah asal budidaya.
Baca Juga: BI Rate Naik, Mobil Rp300 Juta ke Bawah Terancam Sepi Pembeli
Sebagian besar produksi ube masih bergantung pada lahan pertanian skala kecil di Filipina yang rentan terhadap cuaca ekstrem dan dampak perubahan iklim.
Kondisi ini menuntut keterlibatan industri untuk memastikan keberlanjutan pasokan pangan agar dapat mengimbangi pertumbuhan tren global secara sehat dan bertanggung jawab.
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis