Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Mengenal Tren Snackpacking, Berburu Kuliner Otentik di Pasar Tradisional Ala Gen Z

Hany Akasah • Minggu, 19 Juli 2026 | 10:42 WIB
WISATA KULINER: Tren wisata snackpacking Gen Z saat berburu jajanan pasar tradisional otentik di Indonesia.
WISATA KULINER: Tren wisata snackpacking Gen Z saat berburu jajanan pasar tradisional otentik di Indonesia. (FOTO: ISTIMEWA)

RADAR SURABAYA BISNIS – Tren berwisata di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z kini cukup menarik untuk diikuti. Jika dahulu liburan identik dengan destinasi populer seperti pantai atau pusat kota modern, kini muncul tren baru bernama snackpacking. 

Istilah ini merujuk pada aktivitas berwisata sambil menjelajahi dan menikmati jajanan lokal di pasar tradisional sebagai tujuan utama perjalanan.

Bagi Gen Z, snackpacking bukan sekadar aktivitas "cari makan", melainkan sebuah pengalaman tersendiri akan suatu ciri khas budaya dalam berpergian. 

Baca Juga: Indonesia Resmi Jadi Negara Pendiri WAICO, Perkuat Tata Kelola AI Global untuk Ekonomi Digital

Pasar tradisional dinilai sebagai ruang hidup yang menyimpan cerita, interaksi sosial, dan identitas kuliner daerah yang otentik. Melalui aktivitas ini, wisatawan merasa lebih dekat dengan masyarakat lokal dan bebas menentukan rute perjalanan sesuai selera.

Kementerian Pariwisata RI mencatat tren ini menjadi peluang baru yang besar bagi sektor pariwisata dan pemberdayaan UMKM kuliner di berbagai penjuru Indonesia. Ada beberapa alasan mengapa snackpacking cepat diterima, di antaranya adalah pencarian pengalaman yang nyata, biaya yang relatif terjangkau (berkisar Rp50.000 hingga Rp100.000), serta potensi konten media sosial yang estetis dan unik.

Baca Juga: Berhasil Jaring 9.217 Aduan, Hotline Lapor Cak Eri Jadi Katalis Reformasi Birokrasi di Surabaya

Di Jawa Timur, tren snackpacking menemukan kecocokan yang sangat kuat karena kekayaan kuliner tradisionalnya. Dua lokasi yang kini menjadi magnet utama para snackpacker muda adalah Pasar Atom di Surabaya dan Pasar Oro-Oro Dowo di Malang.

Pasar Atom Surabaya menawarkan perpaduan kuliner legendaris khas Jawa Timur dan peranakan, mulai dari Lontong Mie, Bubur Madura yang manis legit, hingga jajanan pasar seperti pisang goreng madu dan kue-kue basah tradisional. 

Sementara itu, Pasar Oro-Oro Dowo di Malang memikat anak muda berkat suasananya yang bersih, rapi, dan bersejarah. Di sini, wisatawan bisa mencicipi kue lumpur hangat, cenil, lupis, hingga tempe menjes yang khas dengan harga yang sangat ramah di kantong.

Baca Juga: Tiga Flyover Baru Dibangun di Surabaya, Proyek senilai Rp4,7 triliun didukung Jerman

Selain di Jawa Timur, fenomena ini juga merambah ke berbagai wilayah Nusantara dengan karakteristiknya masing-masing. Di Palembang terdapat Pasar 16 Ilir yang menawarkan pempek kapal selam mini dan kue maksuba di tepi Sungai Musi. 

Di Jakarta, Pasar Santa tampil unik sebagai ruang kreatif urban tempat berburunya kuliner kekinian dan kopi lokal.

Bergerak ke Yogyakarta, Pasar Ngasem menjadi pilihan utama berburu gudeg dan wedangan sambil menikmati objek wisata sejarah terdekat. Sementara di Kalimantan Selatan, Pasar Terapung Lok Baintan menyajikan sensasi berbelanja kue bingka dan kuwaci di atas perahu. 

Baca Juga: Universitas Ciputra Jamin Biaya Kuliah 18 Mahasiswa yang Kehilangan Orang Tua Senilai Rp1,9 Miliar

Tak ketinggalan di Indonesia Timur, Pasar Hamadi Jayapura menjadi surga snackpacking untuk mencicipi kue sagu bakar, papeda mini, serta kue bagea yang otentik.

Tren snackpacking ini membuktikan bahwa pasar tradisional bukan lagi tempat yang kumuh di mata generasi muda, melainkan ruang kreatif dan destinasi wisata kuliner yang penuh dengan cerita otentik sekaligus penggerak ekonomi lokal.

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
snakpacking Gen Z liburan tren kuliner