RADAR SURABAYA BISNIS – Industri bumbu dapur dan kuliner di kawasan Asia memiliki potensi ekonomi yang luar biasa. Hal ini kembali dibuktikan melalui rilis terbaru dari pemeringkat kuliner global, TasteAtlas, yang merilis daftar 10 Kecap Terbaik di Dunia pada Kamis (25/6/2026).
Menariknya, kecap manis asal Indonesia berhasil menembus posisi ke-4, bersaing ketat dengan dominasi produk dari Tiongkok dan Korea Selatan.
Pengakuan ini bukan sekadar validasi rasa, melainkan menjadi indikator kuat tingginya peluang bisnis dan potensi ekspor bagi pelaku UMKM di sektor pengolahan pangan lokal.
Baca Juga: Gudang Bulog Simpan 5 Juta Ton Beras, Pemerintah Jamin Harga Pangan Stabil
TasteAtlas menyusun daftar ini berdasarkan 615 penilaian pengguna yang telah diverifikasi (dengan 551 di antaranya dianggap valid). Berikut adalah urutan lengkap 10 kecap terbaik di dunia yang mendominasi pasar kuliner global saat ini:
1. Shèng Chóu (Kecap Asin Ringan) – China
Menduduki peringkat pertama, kecap ini lebih bening dan encer. Terbuat dari fermentasi kedelai, gandum, garam, dan air, Shèng Chóu umum dipakai sebagai penyedap utama dalam masakan Tiongkok. Permintaannya yang masif menjadikannya komoditas bisnis utama di restoran Asia.
2. Jiàng Yóu (Kecap Asin) – China
Kecap berwarna gelap ini sangat mudah ditemui di mana saja, termasuk di Indonesia di mana banyak produsen lokal turut memproduksinya. Skala produksinya yang luas sejak Dinasti Han membuktikan model bisnis bumbu ini sangat sustainable (berkelanjutan).
Baca Juga: CNG 3 Kg Pengganti LPG Resmi Diluncurkan, Warga Tak Perlu Beli Tabung, Ini Mekanismenya
3. Lăo Chóu (Kecap Asin Hitam) – China
Varian ini lebih kental dan berwarna gelap, umumnya digunakan untuk memberi warna cokelat tua serta rasa gurih-manis yang lebih dalam pada masakan. Nilai jualnya terletak pada kemampuannya mempercantik visual hidangan.
4. Kecap Manis – Indonesia
Satu-satunya wakil Nusantara di jajaran atas! Kecap yang berasal dari Pulau Jawa ini memiliki tekstur kental seperti sirup berkat kandungan gula aren yang tinggi.
Melimpahnya gula aren di Indonesia membuat cita rasanya berkembang menjadi bagian penting dari masakan lokal. Posisi ke-4 ini menjadi *branding* strategis bagi produsen dan UMKM Indonesia untuk menggenjot volume ekspor ke pasar global.
5. Yangjo-Ganjang – Korea Selatan
Kecap asal Korea Selatan ini dibuat melalui fermentasi alami kedelai, gandum, dan air garam. Keunggulannya di pasar bisnis adalah proses pembuatannya yang organik karena tidak menggunakan proses kimia, menyasar segmen konsumen sadar kesehatan.
6. Gaeryang Ganjang – Korea Selatan
Merupakan kecap Korea yang modern dan paling banyak dikonsumsi saat ini. Rasanya lebih manis dan konsisten karena menggunakan kultur mikroba khusus dalam proses pembuatannya. Inovasi teknologi pangan ini membuatnya sukses mendominasi pasar.
Baca Juga: Batas Nikotin 1 Mg Ditolak, Industri Rokok Terancam Kehilangan Rp700 Triliun
7. Jin-Ganjang – Korea Selatan
Kecap fermentasi ini dimasak lebih lama dari jenis kecap Korea lainnya, menghasilkan warna sangat gelap, lebih kental, dan rasa umami yang kuat. Sangat bernilai di pasar untuk hidangan premium.
8. Jung-Ganjang – Korea Selatan
Bahan untuk kecap ini difermentasikan lebih lama, menciptakan keseimbangan rasa asin dan manis yang baik. Menggambarkan ciri khas Korea Selatan dalam membuat fermentasi makanan dalam waktu lama.
9. Haet-Ganjang – Korea Selatan
Berbanding terbalik dengan Jung-Ganjang, varian ini punya umur fermentasi lebih cepat, yakni hanya difermentasikan pada tahun pertama setelah dibuat. Cocok untuk perputaran modal bisnis yang lebih cepat karena masa produksinya yang singkat.
Baca Juga: Bank Mulai Tinggalkan Kredit Konsumtif, Lima Sektor Ini Jadi Favorit Pembiayaan
10. Guk-Ganjang – Korea Selatan
Kecap asin tradisional Korea yang penampilannya mirip dengan Shèng Chóu dari China, namun memiliki rasa yang berbeda. Dibuat hanya dari kedelai dan air garam, kecap ini utamanya menyasar ceruk pasar untuk hidangan sup dan sejenisnya.
Dari daftar tersebut, terlihat jelas bahwa kecap tidak hanya sekadar komoditas dapur, melainkan industri dengan perputaran ekonomi yang tinggi.
Bagi pelaku usaha di Indonesia, keberhasilan Kecap Manis menembus 4 besar dunia harus dimanfaatkan sebagai momentum emas untuk mengakselerasi pemasaran, menjangkau pasar internasional, dan meningkatkan daya saing UMKM lokal.
Baca Juga: Prabowo Rombak Ratusan BUMN dalam Setahun, Wajibkan Sisihkan Laba untuk Riset
Editor : Hany Akasah