Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Dulu Nonton Bioskop Ada Kelas Sosialnya, Penonton Kelas Tiga Sering Digigit Kutu Busuk

Dimas Mahendra • Jumat, 26 Juni 2026 | 06:09 WIB
LEGENDARIS: Bioskop Aurora di Jalan Tunjungan pada zaman Belanda.
LEGENDARIS: Bioskop Aurora di Jalan Tunjungan pada zaman Belanda.

radarsurabayabisnis.id – Menonton film di bioskop pada masa Hindia Belanda ternyata jauh berbeda dengan pengalaman menonton saat ini. Selain harga tiket yang berbeda, penonton juga dibagi berdasarkan kelas tempat duduk, mulai dari kelas I, kelas II, hingga kelas III.

Pengamat sejarah Kota Surabaya, Stefanus Nuradhi, menjelaskan pembagian kelas tersebut berlaku di banyak bioskop pada masa itu, termasuk Bioskop Kranggan yang pernah menjadi salah satu tempat hiburan favorit masyarakat Surabaya.

Penonton yang membeli karcis kelas I dipersilakan masuk melalui pintu pertama yang memiliki ukuran lebih lebar dan tinggi serta dilengkapi gorden atau keber. Sementara pemegang tiket kelas II masuk melalui pintu berikutnya.

Baca Juga: Dari Film Suzanna hingga Hollywood, Ini Kisah Pelukis Poster Bioskop Jadul Surabaya

Di setiap pintu terdapat petugas yang bertugas merobek karcis. Bagi penonton kelas I dan II, potongan tiket yang memuat nomor kursi akan dikembalikan sebagai penanda tempat duduk masing-masing.

"Mereka yang memegang karcis kelas tiga langsung saja maju lebih dalam dan langsung cari sendiri tempat duduk yang mungkin sudah jadi favoritnya karena tanpa nomor kursi," kata Stefanus.

Menurutnya, area tempat duduk kelas I dan II dipisahkan oleh pagar dengan kelas III. Kapasitas kelas III bahkan mencapai hampir separuh dari total kapasitas gedung bioskop.

Yang menarik, penonton kelas III tidak menggunakan kursi individual seperti kelas lainnya. Mereka duduk di bangku kayu panjang dengan ukuran sekitar dua meter yang bentuknya menyerupai kursi tunggu di rumah sakit atau praktik dokter.

"Kursi panjang dari kayu itu justru membuat penonton kelas III terhindar dari kutu busuk yang saat itu kerap bersarang di sela-sela rotan anyaman kursi atau tikar," ujar Stefanus.

Baca Juga: Kawasan Kota Lama jadi Proyek Percontohan Penataan Utilitas di Kota Surabaya

Meski demikian, pengelola bioskop tetap melakukan pembersihan setiap pagi. Kursi kelas I dan II juga rutin disemprot disinfektan sebagai bagian dari prosedur kebersihan untuk membasmi serangga tersebut.

Keunikan lain Bioskop Kranggan terdapat pada desain bangunannya. Dinding di sisi kanan dan kiri area kelas III bukan berupa tembok permanen, melainkan terpal yang dapat dinaikkan dan diturunkan sesuai kebutuhan.

Saat pemutaran film malam hari, terpal tersebut biasanya digulung sehingga angin malam dapat masuk ke dalam ruangan dan memberikan kesejukan alami bagi penonton, terutama saat musim kemarau.

"Letak toilet pun terpisah dari gedung bioskop dengan aliran air berlimpah," kata Stefanus.

Film yang diputar di Bioskop Kranggan pada masa itu didominasi film-film India yang memiliki durasi panjang dan identik dengan adegan lagu serta tarian yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemarnya.

Selain film India, bioskop tersebut juga sesekali memutar film nasional atau film Indonesia.

"Saya pernah nonton film berjudul Bengawan Solo dan Pejuang di bioskop ini," kenangnya.

Stefanus juga menyoroti tata letak unik antara Bioskop Kranggan dan Bioskop Capitol yang saat itu berdiri berdampingan di kawasan yang sama.

Menurutnya, kedua bioskop tersebut mewakili dua segmen masyarakat yang berbeda. Bioskop Capitol dikenal lebih elit, sementara Bioskop Kranggan benar-benar menjadi hiburan rakyat dari berbagai kalangan.

"Yang satu elitis, dan sebelahnya betul-betul merakyat dalam arti sesungguhnya," pungkasnya.

Editor : Hany Akasah
#bioskop tempo dulu #film jadul #bioskop jadul #Surabaya heritage