SURABAYA – Ramainya perbincangan di media sosial turut mendongkrak popularitas Ayam Goreng Kamari di Jalan Dharma Husada, Surabaya. Tempat makan yang mengandalkan menu ayam goreng dan ayam kukus ini berhasil menarik perhatian pelanggan berkat cita rasa yang diracik khusus agar sesuai dengan lidah masyarakat Surabaya.
Pemilik Ayam Goreng Kamari, Kamariati Kamarudin (26), merupakan perempuan asal Makassar yang menjadikan namanya sendiri sebagai identitas merek usaha tersebut. Nama Kamari dipilih untuk memberikan sentuhan personal sekaligus memperkuat karakter usaha yang dirintis bersama sang suami.
"Nama Kamari itu diambil dari nama saya sendiri, Kamariati. Suami yang menyarankan supaya usaha ini memakai nama Ayam Goreng Kamari agar lebih melekat dengan saya," ujarnya, Kamis (25/6).
Kamariati bercerita, usaha tersebut bermula ketika bisnis bakmi yang sebelumnya dijalankan suaminya mengalami penurunan peminat. Saat itu, sang suami mendorongnya untuk mengembangkan menu ayam kukus yang selama ini kerap dibuat di rumah.
Kemampuan mengolah ayam kukus didapatkan Kamariati dari keluarganya. Ia mengaku pernah belajar teknik memasak dari pamannya yang memiliki latar belakang kuliner Chinese food. Dari pengalaman tersebut lahirlah resep ayam kukus yang kini menjadi salah satu menu andalan.
"Kaldu dibuat dari resep suami, sedangkan ayam kukusnya dari saya. Akhirnya kami padukan menjadi menu yang punya ciri khas sendiri," katanya.
Selain ayam kukus, Ayam Goreng Kamari juga menghadirkan menu ayam goreng ketumbar dan ayam goreng bawang putih. Seluruh menu disajikan dengan sambal racikan khusus yang disesuaikan dengan karakter masyarakat Surabaya yang dikenal menyukai cita rasa pedas.
Salah satu pembeda utama dibandingkan ayam goreng pada umumnya adalah penggunaan kremesan ketumbar yang dibuat melalui proses khusus. Kamariati menyebut kremesan tersebut menggunakan racikan bumbu rahasia yang berbeda dari kebanyakan tempat makan lainnya.
Baca Juga: Mau Nikmati Libur Lebaran ke IKN? Intip Kesiapan Fasilitas Penunjang Wisata dan Kulinernya
"Kalau sudah merasakan, pelanggan biasanya langsung tahu bedanya. Kremesannya memang punya ciri khas tersendiri," ungkapnya.
Untuk menjaga kualitas rasa dan tekstur, Ayam Goreng Kamari menggunakan ayam pejantan. Menurut Kamariati, jenis ayam tersebut memiliki tekstur daging yang lebih cocok untuk menu goreng maupun kukus.
Konsep menu yang dihadirkan juga merupakan perpaduan berbagai pengaruh kuliner, mulai dari cita rasa Makassar, sentuhan Semarang dan Bandung, hingga gaya Chinese food yang terlihat pada menu pendamping seperti tumis baby kailan dan tumis pete.
"Resepnya saya campur supaya bisa diterima lidah orang Surabaya. Banyak pelanggan kami juga dari kalangan Tionghoa, jadi kami buat rasanya lebih menyatu," jelasnya.
Menu ayam kukus menjadi salah satu sajian yang paling menarik perhatian pelanggan. Proses pembuatannya diawali dengan marinasi ayam sebelum dikukus selama sekitar 30 menit. Sementara itu, kaldunya dibuat dari rebusan ayam yang dimasak hingga empat jam agar menghasilkan rasa yang kuat dan gurih.
Ayam kukus kemudian disajikan bersama kuah kaldu hangat dan taburan daun bawang. Sensasi rasanya semakin lengkap berkat sambal asam manis dengan sentuhan daun mint dan ketumbar yang menjadi ciri khas menu tersebut.
Meski demikian, ayam goreng ketumbar justru menjadi menu terlaris. Tingginya minat pelanggan tidak lepas dari proses pembuatan kremesan yang cukup rumit karena harus melalui tiga tahap pengolahan sebelum siap disajikan.
"Proses paling sulit memang kremesannya. Harus direndam dulu, lalu digoreng beberapa tahap. Karena itu ayam goreng ketumbar menjadi salah satu menu best seller," tuturnya.
Ayam Goreng Kamari beroperasi setiap hari mulai pukul 13.00 hingga 19.00. Perpaduan resep keluarga, sentuhan Chinese food, serta cita rasa yang disesuaikan dengan lidah masyarakat Surabaya membuat tempat makan ini terus menarik perhatian pelanggan, baik yang datang langsung maupun yang mengenalnya melalui media sosial.
Editor : Hany Akasah