Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Tak Lekang oleh Waktu, Jajanan Murah Meriah Ini Masih Jadi Raja di Perut Orang Indonesia

Hany Akasah • Jumat, 12 Juni 2026 | 13:03 WIB
Konnsumsi gorengan masyarakat Indonesia masih tinggi serta besaran pengeluaran per kapita
Konsumsi gorengan masyarakat Indonesia masih tinggi serta besaran pengeluaran per kapita

RADAR SURABAYA BISNIS - Kebiasaan masyarakat Indonesia dalam mengonsumsi makanan ringan atau jajan ternyata bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan potensi perputaran ekonomi yang masif. 

Data terbaru dari Statistik Konsumsi Pangan mengungkap bahwa rata-rata orang Indonesia mengonsumsi hingga 144 potong gorengan dalam setahun, menjadikan sektor kuliner jajanan sebagai peluang bisnis yang sangat menjanjikan bagi pelaku UMKM.

Gorengan seperti tempe, pisang goreng, dan bakwan masih menduduki posisi puncak sebagai jajanan favorit nasional. Di posisi kedua, kue basah menyusul dengan tingkat konsumsi mencapai 73 buah per orang setiap tahunnya. 

Baca Juga: IHSG Loncat Tinggi di Awal Perdagangan, Sentimen Global Dorong Penguatan Pasar Saham Domestik

Fakta ini menegaskan tingginya permintaan pasar terhadap produk kuliner tradisional yang praktis dan murah, sehingga menjanjikan perputaran uang yang cepat (cashflow) bagi para pedagang kaki lima hingga pengusaha waralaba.

Dari sisi demografi pengeluaran, masyarakat perkotaan rata-rata menghabiskan Rp 294.188 per bulan untuk jajan makanan dan minuman jadi, jauh lebih tinggi dibandingkan warga pedesaan di angka Rp 181.387 per bulan.

Namun, kejutan terbesar dalam peta potensi bisnis ini justru datang dari wilayah penyumbang pengeluaran jajan tertinggi. Secara mengejutkan, Papua Pegunungan tercatat sebagai wilayah dengan pengeluaran jajan tertinggi nasional yang menembus Rp 1.256.747 per bulan per kapita. 

Baca Juga: Emas Antam Mulai Unjuk Gigi, Buyback Melesat Jadi Rp 2,4 Juta

Angka ini bahkan mengungguli DKI Jakarta yang berada di urutan kedua dengan Rp 1.153.404, disusul Kepulauan Riau sebesar Rp 1.063.897.

Bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta investor di bidang Food and Beverage (F&B), pemetaan data ini bisa menjadi acuan strategis untuk penetrasi pasar. 

Tingginya angka pengeluaran tersebut membuktikan bahwa bisnis jajanan memiliki ketahanan pasar yang kuat. Inovasi produk, standardisasi kebersihan, dan strategi penempatan lokasi yang adaptif terhadap daya beli tiap wilayah akan menjadi kunci sukses bagi para pengusaha kuliner untuk meraup cuan maksimal.

Baca Juga: Stop Ketergantungan Impor, Menteri Bahlil Bakal Ganti LPG 3 Kg dengan CNG, Ini Keunggulannya

Editor : Hany Akasah
#gorengan #warga #umkm #jajanan #konsumsi