Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Suhu Bromo Tembus Minus Hingga Bersalju, Cuan Mengalir Deras ke Sektor Pariwisata

Hany Akasah • Selasa, 9 Juni 2026 | 12:50 WIB
Hamparan embun upas (es) menyerupai salju menutupi kawasan lautan pasir Gunung Bromo, Senin (8/6/2026).
Hamparan embun upas (es) menyerupai salju menutupi kawasan lautan pasir Gunung Bromo, Senin (8/6/2026).

RADAR SURABAYA BISNIS – Fenomena embun upas atau lapisan es yang menyerupai salju menutupi kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada awal Juni 2026. 

Anomali cuaca ini tidak hanya menyajikan pesona alam yang eksotis, tetapi juga memicu efek ganda bagi perputaran ekonomi masyarakat sekitar, yakni lonjakan pariwisata sekaligus tantangan bagi sektor pertanian.

Fenomena yang lazim disebut "bediding" ini membawa berkah tersendiri bagi para pelaku usaha wisata. Kemunculan hamparan es kristal yang menyelimuti lautan pasir dan rerumputan terbukti menjadi magnet kuat yang mendongkrak angka kunjungan wisatawan.

Baca Juga: Gunakan Metode OODA Loop, Ini Kisah di Balik Lahirnya Buku Presiden Solusi Prabowo

Pemandu wisata Bams Tour Bromo, Bambang, menuturkan bahwa kemunculan embun es ini menjadi daya jual eksklusif. Banyak wisatawan yang sengaja merencanakan perjalanan untuk merasakan sensasi musim dingin layaknya di negara subtropis. 

Lonjakan ini tentu berimbas positif pada peningkatan pendapatan penyedia jasa sewa jip, penginapan (homestay), hingga pelaku UMKM kuliner di sekitar kawasan Cemoro Lawang.

Daya tarik ini divalidasi oleh tingginya antusiasme pengunjung. Mia, seorang wisatawan asal Bogor, mengaku sengaja datang dan memesan paket wisata ke Bromo semata-mata untuk menyaksikan embun upas secara langsung sebelum mencair terkena sinar matahari.

Baca Juga: Masuk Kelompok Risiko Rendah, Indonesia Kena Usulan Tarif Impor AS Lebih Kecil dari 46 Negara Lain

Namun, di balik geliat positif sektor pariwisata, fenomena ini menghadirkan risiko ekonomi bagi masyarakat lokal yang berprofesi sebagai petani. Suhu ekstrem yang merosot di bawah 5 derajat Celsius berpotensi merusak produktivitas komoditas pertanian dataran tinggi.

Prakirawan BMKG Juanda, Siska Anggraeni, menjelaskan bahwa embun upas terjadi akibat dominasi massa udara kering dan pendinginan radiasi yang kuat. Pihaknya secara khusus mengeluarkan imbauan ekonomi bagi para petani di kawasan Tengger.

"Bagi petani di kawasan dataran tinggi, BMKG mengingatkan adanya potensi dampak suhu dingin terhadap tanaman yang sensitif terhadap embun beku, sehingga perlu dilakukan langkah antisipasi untuk meminimalkan kerugian," jelas Siska.

Baca Juga: Dilantik Jadi Penasihat Khusus Prabowo, Said Iqbal Soroti Upah Layak hingga Ancaman PHK

Secara keseluruhan, fenomena Bromo bersalju di tahun 2026 ini menghadirkan peluang dan tantangan bisnis secara bersamaan. Sinergi antara optimalisasi layanan pariwisata dan mitigasi risiko gagal panen di sektor pertanian menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi kawasan Tengger selama puncak musim kemarau.

Editor : Hany Akasah
#salju #bediding #bromo #pariwisata #tengger