RADAR SURABAYA BISNIS – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan dominasi hiburan modern, semangat para seniman tradisional yang tetap setia menjaga warisan budaya mendapat perhatian khusus dari Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama. Dalam kegiatan Kunjungan Daerah Pemilihan (Kundapil), Lia bersilaturahmi dan berdialog bersama Paguyuban Seniman Tradisional Campursari Guyub Rukun “Susigres” (Surabaya-Sidoarjo-Gresik) di Resto Pondok Tempo Doeloe Surabaya, Rabu (3/6/2026).
Pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh nuansa kekeluargaan itu menjadi ruang bagi para seniman lintas generasi untuk menyampaikan aspirasi sekaligus berbagi semangat dalam menjaga eksistensi seni campursari di tengah perubahan zaman.
Baca Juga: Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Digiring ke Mobil Tahanan Kejagung
Dalam dialog tersebut, Ketua Paguyuban Guyub Rukun “Susigres”, Kasipan, menjelaskan bahwa paguyuban yang dipimpinnya telah bertahan lebih dari 14 tahun dan menjadi rumah bagi para pecinta seni campursari dari Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik.
Meski mayoritas anggotanya berasal dari kalangan senior, semangat mereka untuk melestarikan budaya tidak pernah surut. Berbagai kegiatan rutin, pertunjukan seni, hingga upaya memperkenalkan campursari kepada masyarakat terus dilakukan sebagai bentuk kecintaan terhadap budaya bangsa.
Lia mengaku kagum dengan konsistensi dan loyalitas para anggota paguyuban yang tetap menjaga tradisi di tengah gempuran budaya populer dan perkembangan teknologi digital.
Baca Juga: PLN Group Bakal Dirombak Besar-Besaran, Entitas Dipangkas dari 44 Menjadi 23
“Saya melihat langsung bagaimana kuatnya semangat kebersamaan di paguyuban ini. Mereka tidak hanya menjaga seni campursari, tetapi juga menjaga nilai persaudaraan, gotong royong, dan identitas budaya yang menjadi kekuatan bangsa,” ujar Lia.
Menurutnya, keberadaan Paguyuban Guyub Rukun menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga melalui dedikasi masyarakat yang secara sukarela menjaga warisan leluhur.
“Jika tidak ada yang mempertahankan budaya lokal, maka identitas bangsa perlahan akan tereduksi oleh zaman. Karena itu, apa yang dilakukan para seniman campursari ini patut diapresiasi dan didukung bersama,” katanya.
Baca Juga: Inflasi Jawa Timur Lampaui Nasional, BPS Sebut Masih Aman, Ini Pemicunya
Dalam forum tersebut, persoalan regenerasi menjadi salah satu isu utama yang mengemuka. Para seniman mengakui minat generasi muda terhadap seni campursari masih relatif rendah dibandingkan musik modern yang lebih populer di berbagai platform digital.
Kasipan berharap semakin banyak anak muda yang tertarik mempelajari dan mengembangkan seni tradisional sebagai bagian dari identitas budaya daerah.
“Setidaknya kami bersyukur sudah eksis bersama selama lebih dari 14 tahun. Harapan kami, ke depan semakin banyak generasi muda yang mau bergabung dan meneruskan perjuangan menjaga seni campursari,” ujarnya.
Baca Juga: 190 Juta Perjalanan Penumpang, INACA Ungkap Potensi Besar Penerbangan Nasional
Menanggapi hal tersebut, Lia mendorong adanya pendekatan yang lebih adaptif dalam memperkenalkan seni tradisional kepada generasi muda. Salah satunya melalui pemanfaatan media sosial dan kolaborasi antara seniman senior dengan musisi muda.
Menurut Lia, platform digital seperti YouTube, Instagram, dan TikTok dapat menjadi sarana efektif untuk mengenalkan campursari kepada generasi milenial dan Gen Z dengan kemasan yang lebih kreatif tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisionalnya.
“Budaya harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Campursari bisa tetap otentik, tetapi cara memperkenalkannya kepada publik harus mengikuti perkembangan teknologi dan kebiasaan generasi muda,” tuturnya.
Baca Juga: Produksi Susu Jawa Timur Terbesar di Indonesia, Tapi Masih Akan Impor Ribuan Sapi Perah
Selain persoalan regenerasi, para seniman juga menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap keberlangsungan seni tradisional, baik melalui dukungan anggaran, fasilitasi ruang pentas, maupun perlindungan hak kekayaan intelektual atas karya-karya budaya.
Lia menyatakan siap membawa berbagai aspirasi tersebut sebagai bagian dari fungsi representasi dan pengawasan DPD RI. Ia menilai pelestarian budaya membutuhkan sinergi antara pemerintah, komunitas seni, dunia pendidikan, sektor swasta, dan masyarakat luas.
Dalam kesempatan itu, Lia juga mengapresiasi keberhasilan Paguyuban Guyub Rukun “Susigres” yang pernah menerima penghargaan dari TVRI Jawa Timur pada tahun 2015 serta terdaftar secara resmi sebagai kelompok kesenian di Dinas Pariwisata pada tahun 2016.
Baca Juga: Surplus 44.800 Ton, Produksi Kopi Jawa Timur 2025 Masuk Empat Besar Nasional
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa paguyuban memiliki kontribusi nyata dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional di Jawa Timur.
Suasana dialog semakin hangat ketika para anggota paguyuban bersama-sama melantunkan “Tombo Kangen Mars Guyub Rukun”, lagu yang menjadi simbol persaudaraan dan kebersamaan di antara anggota. Bagi Lia, lirik-lirik bernilai budaya seperti itu perlu terus didokumentasikan dan diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.
“Budaya tidak hanya hidup di atas panggung, tetapi juga hidup dalam nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, dan kecintaan terhadap warisan leluhur. Itulah yang saya lihat hari ini dari keluarga besar Susigres,” ungkapnya.
Baca Juga: Fasilitasi Eksportir ke Tiongkok Selatan, TPK Teluk Lamong Hadirkan Rute Mingguan SCJX
Lia berharap keberadaan Paguyuban Guyub Rukun “Susigres” dapat menjadi inspirasi bagi komunitas seni lainnya untuk terus berkarya dan menjaga budaya lokal. Ia menegaskan bahwa pelestarian seni tradisional bukan hanya tanggung jawab para seniman, melainkan tanggung jawab bersama sebagai bangsa yang kaya akan warisan budaya.
“Selama masih ada orang-orang yang mencintai dan menjaga budaya, saya optimistis seni tradisional akan tetap hidup. Tugas kita sekarang adalah memastikan warisan itu sampai kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.
Editor : Hany Akasah