RADAR SURABAYA BISNIS — Sektor pariwisata edukasi berbasis sejarah di Jawa Timur mendapat suntikan angin segar. Kehadiran Museum Pahlawan Nasional Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, diproyeksikan menjadi motor baru penggerak ekonomi kreatif dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) warga setempat.
Menariknya, proyek bernilai miliaran ini dibangun sepenuhnya tanpa menyentuh dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) maupun APBD.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Senin 18 Mei 2026, Daging dan Telur Turun
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, mengungkapkan bahwa total investasi untuk pembangunan museum dan Rumah Singgah ini mencapai hampir Rp3,8 miliar.
Seluruh pendanaan berasal dari dana gotong royong dan donasi swadaya buruh di bawah jaringan ekonomi koperasi KSPSI AGN yang saat ini asetnya telah menembus Rp2,1 triliun.
"Saya pastikan tidak ada dana pemerintah, tidak ada APBN maupun APBD. Semua berasal dari gotong royong keluarga besar KSPSI," ujar Andi Gani saat mendampingi Presiden RI Prabowo Subianto dalam peresmian museum tersebut, Sabtu (16/5/2026).
Baca Juga: Rupiah Rontok Lagi di Tengah Penguatan Dolar AS dan Lonjakan Harga Minyak
Presiden Prabowo Subianto sendiri menyambut baik inisiatif swadaya ini. Dalam sambutannya, Presiden menyatakan bahwa museum ini harus menjadi pengingat bagi generasi muda tentang seberapa panjang dan beratnya perjuangan dalam mendirikan bangsa. Ia menilai Marsinah adalah simbol perwakilan suara kaum buruh, nelayan, dan masyarakat kecil yang kerap berada di posisi rentan.
"Perjuangan tersebut adalah lambang dari perjuangan mereka yang berada di pihak yang lemah. Orang miskin yang tidak punya kekuasaan, yang tidak punya kekuatan," tegas Prabowo.
Tak hanya itu, Presiden Prabowo juga menambahkan bahwa penetapan Marsinah sebagai pahlawan nasional merupakan langkah nyata bentuk perbaikan atas peristiwa sejarah di masa lalu.
Baca Juga: Swasembada Pangan Terjaga, Indonesia Kebanjiran Permintaan Ekspor Pupuk
Pembangunan museum yang mengadopsi konsep penataan Museum Galeri Nasional Singapura ini langsung direspons strategis oleh pemerintah daerah. Bupati Nganjuk telah menetapkan Desa Nglundo sebagai Desa Wisata resmi untuk tahun 2026.
Pengelolaan kawasan wisata edukasi sejarah ini nantinya akan digerakkan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat, berkolaborasi dengan yayasan yang dibentuk oleh KSPSI Jawa Timur serta keluarga besar Marsinah.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang turut hadir dalam rangkaian peresmian mengapresiasi tata letak museum yang dinilai sangat rapi dan detail.
Baca Juga: Lanjutkan Tren Pelemahan, Emas Antam Terkoreksi Minim Hari Ini
Museum ini menyajikan diorama situasi buruh tahun 1990-an, foto dokumenter, kliping koran asli, hingga pakaian terakhir yang dikenakan sang aktivis buruh.
"Ini bisa membuat jejak pergerakan Marsinah terus memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar melalui sektor pariwisata," kata Khofifah.
Meskipun museum ini dibuka untuk umum secara gratis setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB, dampak ekonomi justru diincar dari rantai pasok pariwisata penunjang.
Baca Juga: Update iOS 26.5 Resmi Hadir di Indonesia, Simak Fitur Baru yang Bikin Pengguna Android Iri
Potensi perputaran uang diprediksi melonjak tajam seiring tingginya arus kunjungan wisata. Sebagai langkah awal, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati bahkan telah mengerahkan keberangkatan 1.100 pekerja dari Kota Kediri untuk meramaikan momentum pembukaan museum tersebut.
Kehadiran ribuan pengunjung dalam satu waktu ini menjadi pasar potensial bagi penyedia jasa transportasi lokal, sektor kuliner, hingga pengrajin suvenir khas Nganjuk.
Wisata edukasi ini diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal dan menaikkan pendapatan per kapita Desa Nglundo secara berkelanjutan.
Baca Juga: Menlu Sugiono Promosikan QRIS Jadi Solusi Transaksi Perdagangan Negara-Negara BRICS
Editor : Hany Akasah