radarsurabayabisnis.id - Kreasi kuliner khas Timur Tengah kini semakin berkembang dan mulai disesuaikan dengan selera masyarakat Indonesia. Salah satu inovasi menarik hadir di Hamra Cafe dan Resto melalui sajian tumpeng kebuli yang memadukan nasi kebuli khas Timur Tengah dengan konsep tumpeng ala Nusantara.
Jika biasanya tumpeng identik dengan nasi kuning, di restoran yang berada di Jalan Ambengan, Surabaya, ini pengunjung justru disuguhkan tumpeng berbahan nasi kebuli lengkap dengan aneka lauk khas Timur Tengah. Menu tersebut menjadi salah satu sajian andalan yang menarik perhatian pecinta kuliner di Kota Pahlawan.
Baca Juga: Mau Nikmati Libur Lebaran ke IKN? Intip Kesiapan Fasilitas Penunjang Wisata dan Kulinernya
Salah satu founder Hamra Cafe dan Resto, Syadzwina Zatalini Yusuf mengatakan, konsep tumpeng kebuli sengaja dihadirkan untuk memberikan pengalaman kuliner yang berbeda bagi para pengunjung.
“Kalau biasanya tumpeng itu nasi kuning, di sini tumpeng kebuli. Berbeda dari lainnya,” ujarnya, Senin (11/5).
Dalam satu loyang besar, tumpeng kebuli disajikan dengan berbagai lauk pendamping, mulai dari ayam bumbu merah, irisan ayam rempah khas Timur Tengah, hingga potongan daging kambing dengan tekstur super empuk. Satu porsi tumpeng kebuli bahkan dapat dinikmati bersama enam hingga delapan orang, sehingga cocok untuk makan bersama keluarga maupun teman.
Aroma rempah yang kuat menjadi daya tarik utama sajian ini. Meski begitu, pihak restoran memastikan cita rasanya tetap ramah di lidah masyarakat Indonesia sehingga tetap mudah dinikmati oleh berbagai kalangan.
Baca Juga: Rasanya Benar-benar Bikin Jatuh Cinta, Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Terbaik Dunia
Syadzwina menjelaskan, proses memasak daging dilakukan dalam waktu cukup lama agar menghasilkan tekstur yang lembut dan mudah disantap. Bahkan, potongan daging kambingnya disebut bisa dipisahkan hanya menggunakan sendok.
“Saat di dalam mulut daging terasa meleleh. Tidak ada yang terselip di gigi sama sekali,” lanjutnya.
Founder lainnya, Shalya Fyanola Yusuf menambahkan, seluruh racikan bumbu telah disesuaikan dengan selera lokal. Dengan begitu, pengunjung yang belum terbiasa menyantap makanan khas Timur Tengah tetap bisa menikmati sajian tersebut dengan nyaman.
“Bumbunya kami sesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Jadi kami rasa masih masuk di lidah masyarakat sini,” katanya.
Editor : Hany Akasah