RADAR SURABAYA BISNIS – Dinamika tren kuliner di media sosial, khususnya TikTok, seringkali dianggap hanya seumur jagung.
Namun, memasuki kuartal kedua tahun 2026, beberapa produk kuliner justru menunjukkan resiliensi yang luar biasa dan bertransformasi dari sekadar tren menjadi peluang bisnis jangka panjang yang menjanjikan.
Fenomena ini dipicu oleh algoritma TikTok yang kini lebih mengedepankan interaksi berkualitas dan visual yang estetik. Berdasarkan pengamatan tren terkini, produk seperti Matcha dan camilan asal Tiongkok, Tanghulu, tetap mendominasi FYP (For Your Page) meski telah hadir sejak beberapa tahun lalu.
Baca Juga: Pastikan Daya Beli Terjaga, Pemerintah Jamin Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026
Matcha bukan lagi sekadar minuman musiman. Dalam perspektif bisnis, Matcha berhasil mempertahankan posisinya karena mampu menyasar dua segmen sekaligus: pecinta estetika dan penganut gaya hidup sehat.
Warna hijau yang khas memberikan nilai tambah visual yang nstagrammable sehingga memicu user-generated content.
Selain Matcha, camilan Tanghulu tetap diminati karena efek audio-visualnya. Tekstur renyah dari lapisan gula yang berkilau menjadikannya konten favorit dalam kategori ASMR.
Baca Juga: Perkuat Ketahanan Pangan, Presiden Prabowo Instruksikan Bulog Serap 1 Juta Ton Jagung
Meski proses pembuatannya memerlukan kehati-hatian karena melibatkan gula panas, daya tarik visualnya terbukti mampu menjaga permintaan pasar tetap tinggi.
Algoritma TikTok yang mendorong interaksi melalui komentar dan reaksi turut memperpanjang usia tren ini. Konten-konten yang memicu rasa penasaran, termasuk resep berbasis teknologi AI, tetap mendapatkan panggung utama, menciptakan peluang bagi kreator dan pebisnis untuk terus berinovasi.
Meski tren visual sangat mendominasi, para pelaku bisnis diingatkan untuk tetap memperhatikan standar kualitas dan edukasi konsumen.
Baca Juga: Perkuat Ketahanan Pangan, Presiden Prabowo Instruksikan Bulog Serap 1 Juta Ton Jagung
Tren seperti "What I Eat in a Day" seringkali dikritik karena menciptakan standar makan yang tidak realistis. Oleh karena itu, bagi pebisnis kuliner, menyajikan produk yang tidak hanya indah di kamera tetapi juga aman dan berkualitas adalah kunci agar usaha tetap bertahan di tengah arus media sosial yang cepat berubah.
Editor : Hany Akasah