RADAR SURABAYA BISNIS - Indonesia terus menunjukkan daya tariknya sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Minat kunjungan yang tinggi ini juga tercermin dari besarnya pengeluaran wisatawan selama berada di Indonesia.
Baca Juga: Sukses Gelar FIFA Series, Indonesia Berpeluang Kembali Jadi Tuan Rumah Turnamen Internasional
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 yang diperbarui pada Maret 2026, wisatawan mancanegara tercatat menghabiskan dana dalam jumlah besar untuk berbagai kebutuhan, mulai dari akomodasi, transportasi, hingga konsumsi dan aktivitas wisata.
Dalam daftar tersebut, Swiss menempati posisi teratas dengan rata-rata pengeluaran mencapai 2,19 ribu dolar AS per kunjungan.
Tepat di bawahnya, Amerika Serikat mencatat rata-rata belanja sebesar 2,18 ribu dolar AS, disusul Austria di peringkat ketiga dengan 2,17 ribu dolar AS.
Selanjutnya, Belgia berada di posisi keempat dengan pengeluaran rata-rata sebesar 2,14 ribu dolar AS.
Baca Juga: PT Jawa Pos Berdamai dengan Dahlan Iskan, Kasus Nany Widjaja Tetap Jalan
Rusia menempati peringkat kelima dengan 2,11 ribu dolar AS, sementara Spanyol berada di posisi keenam dengan rata-rata 2,1 ribu dolar AS.
Di peringkat berikutnya, Jerman mencatat rata-rata pengeluaran sebesar 2,03 ribu dolar AS, diikuti Portugal dengan 2 ribu dolar AS.
Kemudian, Norwegia dan Italia melengkapi daftar sepuluh besar dengan masing-masing sebesar 1,98 ribu dolar AS dan 1,95 ribu dolar AS.
Menariknya, sembilan dari sepuluh negara dengan tingkat pengeluaran tertinggi berasal dari kawasan Eropa dan Amerika Utara.
Baca Juga: Manufaktur Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Global, PMI Bertahan di Zona Ekspansi
Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan dari jarak jauh cenderung menghabiskan waktu lebih lama di Indonesia, sehingga berdampak pada besarnya anggaran yang dikeluarkan selama perjalanan.
Durasi tinggal yang lebih panjang biasanya juga diikuti dengan aktivitas wisata yang lebih beragam, mulai dari eksplorasi destinasi unggulan, wisata kuliner, hingga pengalaman budaya lokal.
Kondisi ini memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah, khususnya bagi pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Tren ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas destinasi, layanan, serta promosi pariwisata, guna menarik lebih banyak wisatawan dengan potensi belanja tinggi di masa mendatang. (iza/han)