RADAR SURABAYA BISNIS – Industri minuman siap saji (ready-to-drink/RTD) di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dalam dua dekade terakhir.
Namun, di balik manisnya keuntungan bisnis boba, kopi susu, dan teh kemasan, tersimpan risiko besar terkait lonjakan konsumsi gula masyarakat yang melampaui ambang batas aman.
Data terbaru menunjukkan bahwa konsumsi gula dari kategori minuman saja telah menyumbang sekitar 50% dari batas harian yang dianjurkan, yakni 50 gram atau setara empat sendok makan. Fenomena ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan konsumsi minuman berpemanis (SSB) tertinggi di Asia.
Baca Juga: Profil Senator DPD RI Dr. Lia Istifhama
Dr. Zuraidah Nasution dari Departemen Gizi Masyarakat IPB University menyoroti bahwa kemudahan akses produk menjadi pendorong utama tren ini.
Dari sisi bisnis, produsen berhasil menggaet pasar luas melalui gerai-gerai yang tersebar hingga ke pemukiman warga dan promosi masif di platform digital.
Namun, transparansi informasi masih menjadi tantangan besar. "Tidak semua produk mencantumkan informasi kandungan gula secara jelas, sehingga konsumen kesulitan mengontrol asupan mereka," ujar Zuraidah.
Baca Juga: Minat Wirausaha Meningkat, Sektor Makanan dan Minuman Jadi Pilihan Utama Pelaku Usaha di Indonesia
Bagi pelaku industri, tantangan ke depan bukan hanya soal inovasi rasa, melainkan juga kepatuhan pada regulasi kesehatan yang kian ketat.
Adanya wacana penerapan cukai minuman berpemanis dan kewajiban label gizi yang lebih ketat menuntut pelaku bisnis untuk mulai beralih ke formulasi produk yang lebih sehat tanpa mengurangi daya tarik pasar.
Baca Juga: RI Bidik Asia Tengah untuk Amankan Bahan Baku Pupuk di Tengah Konflik Timur Tengah
Editor : Hany Akasah