RADAR SURABAYA BISNIS – Menjelang Idulfitri 2026, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor kuliner mulai menyusun strategi untuk menekan biaya operasional.
Salah satu fokus utamanya adalah efisiensi penggunaan gas Elpiji dalam produksi ketupat massal, yang secara tradisional memakan waktu hingga 4 jam perebusan.
Lonjakan permintaan ketupat saat Lebaran seringkali berbanding lurus dengan pembengkakan biaya bahan bakar.
Baca Juga: Potensi Ekonomi Urban Farming, Transformasi Kelompok Wanita Tani Jadi Model Bisnis Ketahanan Pangan
Menanggapi hal ini, banyak pengusaha warung makan dan katering mulai mengadopsi teknik perebusan hemat energi seperti metode 5-30-7 dan penggunaan presto untuk menjaga margin keuntungan tetap sehat di tengah fluktuasi harga energi.
Strategi Efisiensi Operasional
Bagi pebisnis kuliner, waktu adalah uang. Metode tradisional yang membutuhkan api menyala selama berkali-kali jam dianggap kurang efisien bagi produksi skala besar.
Sebagai alternatif, metode 5-30-7 (5 menit rebus, 30 menit diam, 7 menit rebus kembali) menjadi tren karena mampu memangkas durasi pemakaian gas hingga lebih dari 60%.
Baca Juga: Rupiah Berangsur Menguat Setelah Sempat Tertekan, Kini Mulai Stabil di Tengah Sentimen Pasar
Selain metode interval, penggunaan panci bertekanan tinggi (pressure cooker) juga menjadi investasi alat bagi pengusaha kuliner.
Meski memerlukan modal awal lebih besar, teknik ini mampu mematangkan ketupat dalam waktu 30-40 menit, memungkinkan perputaran stok (inventory turnover) yang lebih cepat.
Baca Juga: Harga Emas Antam Kembali Turun Tajam pada 19 Maret 2026, Buyback Ikut Terkoreksi
Kualitas Produk Tetap Terjaga
Dari sisi kode etik bisnis dan kualitas, efisiensi ini diklaim tidak mengurangi standar rasa maupun keawetan produk. Dengan memanfaatkan panas laten dalam panci tertutup (metode sisa suhu), tekstur ketupat tetap padat dan tidak mudah basi, yang merupakan syarat utama dalam perdagangan produk pangan siap saji.
Penerapan teknologi tepat guna dan metode memasak cerdas ini diharapkan dapat membantu pelaku usaha kuliner di Jawa Timur dan sekitarnya untuk tetap kompetitif, menjaga harga jual tetap terjangkau bagi konsumen tanpa harus mengorbankan kualitas produk akhir di hari kemenangan.
Baca Juga: Laba PT Perkebunan Nusantara I Tembus Rp700 Miliar di 2025, Ini Komoditas Unggulannya
Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis