RADAR SURABAYA BISNIS - Perhelatan akbar Kontes Bandeng Kawak 2026 yang akan segera digelar Pemerintah Kabupaten Gresik bukan sekadar seremoni budaya, melainkan instrumen ekonomi strategis untuk memperkuat posisi tawar sektor perikanan tambak.
Agenda tahunan yang menjadi puncak tradisi Pasar Bandeng ini diproyeksikan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi lokal melalui skema lelang, promosi komoditas, dan peningkatan konsumsi domestik.
Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparekrafbudpora) Kabupaten Gresik, drg. Saifudin Ghozali, menegaskan bahwa kegiatan yang dimulai pada Senin (16/3) pukul 15.30 WIB ini memiliki misi besar untuk memberikan nilai tambah (value added) bagi para petambak.
Dengan mengarak bandeng raksasa melalui rute dari Gedung Nasional Indonesia (GNI) hingga Pendopo Alun-Alun, pemerintah ingin menegaskan identitas geografis bandeng Gresik di pasar nasional.
Dalam perspektif ekonomi kreatif, panitia mengintegrasikan kegiatan ini dengan distribusi 1.000 ekor bandeng segar secara gratis serta penyediaan 2.000 porsi nasi bandeng siap saji.
Langkah ini dinilai sebagai upaya menstimulasi permintaan pasar dan memperluas pangsa pasar produk olahan.
Kehadiran Chef Rudi yang akan mendemonstrasikan pengolahan bandeng menjadi tiga varian menu berbeda juga bertujuan untuk mendorong diversifikasi produk UMKM berbasis perikanan.
"Kirab ini akan membawa berbagai simbol budaya serta tradisi Gresik. Selain itu juga ada kegiatan udik-udikan untuk masyarakat. Bandeng yang dibagikan ada 1.000 ekor dalam kondisi fresh. Jadi saat kirab dibawa dan kemudian dibagikan kepada masyarakat," ujar Ghozali saat menjelaskan skema distribusi yang bertujuan menggerakkan partisipasi ekonomi warga.
Lebih lanjut, status tradisi ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional memberikan keunggulan kompetitif bagi Gresik dalam mempromosikan pariwisata berbasis budaya dan ekonomi.
Sinergi antara lima elemen budaya, termasuk Pasar Bandeng dan Pencak Macan, diharapkan mampu menarik kunjungan wisatawan yang berdampak langsung pada omzet pedagang dan pelaku jasa di sekitar lokasi kegiatan.
Ghozali menekankan bahwa penguatan branding "Bandeng adalah Gresik" menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan profesi petambak di tengah tantangan ekonomi global.
Melalui kontes dan lelang ini, harga bandeng berkualitas tinggi diharapkan tetap terjaga di level yang menguntungkan bagi produsen.
"Diharapkan melalui kegiatan ini dapat semakin memperkuat identitas Gresik sebagai daerah penghasil bandeng. Juga bisa menyemangati para petani tambak bahwa bandeng adalah Gresik dan Gresik adalah bandeng. Sehingga tradisi ini harus terus dipertahankan," pungkas Ghozali optimis.
Baca Juga: Harga Emas Pegadaian Stabil, Ini Daftar Harga Galeri24 dan UBS per 15 Maret 2026
Dengan integrasi antara tradisi, aksi sosial, dan edukasi kuliner, Kontes Bandeng Kawak 2026 diharapkan mampu menciptakan efek domino ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Kabupaten Gresik, khususnya dalam memulihkan daya beli dan memperkuat ketahanan pangan lokal. (rir/han)
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis