RADAR SURABAYA BISNIS – Industri makanan dan minuman (F&B) di Indonesia kini menghadapi babak baru dalam tren konsumsi sehat.
Menyusul meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap risiko zat akrilamida pada makanan yang diproses suhu tinggi—seperti gorengan, kopi sangrai, hingga sereal—para pelaku usaha mulai memutar otak untuk melakukan inovasi produk.
Zat akrilamida, yang terbentuk secara alami saat makanan berpati dimasak di atas 120^\circ C, kini menjadi perhatian serius.
Berdasarkan data keamanan pangan, kadar akrilamida pada keripik kentang dan kopi sangrai gelap dapat mencapai angka yang signifikan, yang jika dikonsumsi berlebih, berpotensi memicu kanker.
Peluang Bisnis "Healthy Processing"
Kondisi ini membuka celah pasar baru bagi produsen alat masak dan pemilik brand camilan. Penggunaan teknologi air frying dan metode light roasting pada kopi kini bukan sekadar gaya hidup, melainkan kebutuhan kompetitif.
Para analis memprediksi bahwa produk dengan label "Low Acrylamide" atau "Steam-Processed" akan menjadi primadona baru di rak supermarket dalam beberapa tahun ke depan.
"Konsumen sekarang lebih teredukasi. Mereka mencari alternatif gorengan yang lebih aman tanpa mengorbankan rasa. Ini adalah peluang besar bagi UMKM untuk beralih ke metode pengolahan yang lebih sehat," ungkap pengamat industri kuliner.
Adaptasi Kedai Kopi dan Roti
Bukan hanya produsen kemasan, sektor coffee shop juga mulai mengedukasi pelanggan mengenai keunggulan light to medium roast yang mengandung kadar akrilamida lebih rendah dibanding dark roast.
Begitu pula dengan industri toko roti (bakery) yang mulai mempromosikan roti gandum dengan teknik pemanggangan suhu rendah guna menekan pembentukan zat kimia tersebut.
Meskipun tantangan biaya teknologi pengolahan menjadi hambatan, transformasi menuju kuliner sehat dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi keberlanjutan bisnis F&B di tanah air.
Editor : Hany Akasah