RADAR SURABAYA BISNIS – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H, permintaan ketupat siap saji yang diprediksi akan meningkat tajam.
Bagi para pelaku UMKM kuliner, menjaga kualitas tekstur ketupat yang padat dan tahan lama, sekaligus menekan biaya operasional produksi, menjadi tantangan utama untuk meraih keuntungan maksimal.
Salah satu kunci efisiensi ketupat bisnis terletak pada teknik perebusan. Metode hemat gas "20-30-20-30" kini mulai banyak dilirik produsen.
Baca Juga: Pegadaian Buka Lowongan BUMN Maret 2026, Cek Posisi dan Syarat Rekrutmen Terbaru
Dengan merebus selama total 40 menit dalam panci tertutup, pelaku usaha dapat menghemat penggunaan gas hingga 50% dibandingkan metode konvensional yang memakan waktu 4 jam.
“Ketupat yang tidak cepat basi adalah aset bagi pedagang. Penambahan air kapur sirih bukan sekedar tradisi, tapi langkah teknis untuk memperkuat struktur pati sehingga ketupat tetap kenyal dan tidak mudah berlendir saat didistribusikan,” ungkap analisis praktis industri rumahan.
Baca Juga: Srikaya Gula Aren Bawean, Bisnis Takjil Rumahan yang Kebanjiran Pesan di Bulan Ramadhan
Selain teknik rebus, rasio pengisian beras juga menentukan margin keuntungan. Penggunaan beras pulen dengan takaran 2/3 bagian janur dianggap ideal untuk menghasilkan ketupat yang beratnya pas dan tidak hancur saat dipotong.
Dengan menjaga kualitas produksi melalui teknik pengeringan gantung yang tepat, pelaku usaha dapat memastikan produk mereka memiliki daya simpan lebih lama di tangan konsumen.
Baca Juga: Peraturan Sosmed untuk Anak Resmi Diterbitkan, TikTok hingga Instagram Terdampak, Berikut Aturannya
Editor : Hany Akasah