Senator Jatim Lia Istifhama Dorong Gerakkan Ekonomi Lokal Kota Surabaya Lewat Urban Farming

Hany Akasah • Dipublikasikan Sabtu, 7 Maret 2026 | 00:00 WIB
Urban farming jadi salah satu upaya untuk meningkatkan ekonomi lokal di Surabaya
Urban farming jadi salah satu upaya untuk meningkatkan ekonomi lokal di Surabaya

 RADAR SURABAYA  BISNIS – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mendorong penguatan pertanian perkotaan (urban farming) sebagai salah satu penggerak ekonomi lokal masyarakat kota. Hal tersebut disampaikan saat kegiatan penyerapan aspirasi bersama Kelompok Tani Lestari Jemursari di Green House Poktan Lestari, Kelurahan Jemurwonosari, Kecamatan Wonocolo, Surabaya, Sabtu (7/3/2026).

Dalam dialog bersama petani dan warga setempat, Lia menilai urban farming tidak hanya berperan dalam menjaga ketahanan pangan kota, tetapi juga memiliki potensi besar dalam meningkatkan pendapatan masyarakat dan ekonomi komunitas.

“Pertanian perkotaan memiliki nilai ekonomi yang besar jika dikelola secara modern dan terintegrasi dengan pasar. Ini bukan sekadar kegiatan bercocok tanam, tetapi bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat kota,” ujar Lia.

Kelompok Tani Lestari Jemursari selama ini mengembangkan berbagai komoditas sayuran organik seperti bayam dan pakcoy melalui konsep pertanian modern berbasis komunitas. Produk tersebut dinilai memiliki potensi pasar yang cukup besar karena meningkatnya permintaan masyarakat terhadap pangan sehat.

Baca Juga: Target Ekonomi 5,4 Persen, Airlangga Hartarto Beberkan Strategi Mulai dari Stimulus Lebaran hingga Coretax

Menurut Lia, jika dikelola secara optimal, urban farming dapat menjadi model ekonomi berbasis komunitas yang mampu menciptakan lapangan usaha baru, terutama di wilayah perkotaan dengan lahan terbatas.

“Dengan dukungan teknologi, pemasaran digital, dan kemitraan dengan pelaku usaha, hasil pertanian perkotaan dapat memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” katanya.

Meski memiliki potensi ekonomi yang besar, para petani menyampaikan sejumlah kendala yang masih dihadapi dalam mengembangkan usaha pertanian perkotaan.

Salah satunya adalah tingginya biaya sertifikasi produk organik yang bisa mencapai lebih dari Rp20 juta. Biaya tersebut dinilai memberatkan petani kecil sehingga menghambat peningkatan nilai jual produk mereka di pasar.

Petani berharap pemerintah dapat memberikan dukungan berupa subsidi sertifikasi, penyederhanaan prosedur, serta pendampingan administrasi agar produk pertanian lokal dapat bersaing di pasar yang lebih luas.

Selain persoalan sertifikasi, petani juga mengeluhkan keterbatasan akses pasar bagi produk urban farming. Meski kualitas produk dinilai baik, jaringan distribusi dan pemasaran masih belum optimal.

Kondisi ini membuat hasil panen belum sepenuhnya terserap oleh pasar sehingga potensi ekonomi yang dihasilkan belum maksimal.

Para petani berharap adanya dukungan program pemasaran produk lokal, promosi hasil pertanian, serta pemanfaatan platform digital untuk memperluas jaringan pemasaran.

Petani juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap potensi alih fungsi lahan pertanian di kawasan perkotaan menjadi proyek pembangunan atau fasilitas umum.

Jika hal tersebut terus terjadi tanpa kebijakan perlindungan lahan, maka kegiatan pertanian masyarakat berpotensi berkurang dan berdampak pada ekonomi komunitas yang selama ini bergantung pada sektor tersebut.

Lia Istifhama menegaskan akan menindaklanjuti aspirasi petani melalui koordinasi dengan kementerian dan pemerintah daerah untuk memperkuat ekosistem pertanian perkotaan.

Menurutnya, pengembangan urban farming perlu didukung dengan inovasi teknologi, pemasaran digital, serta program regenerasi petani muda agar sektor pertanian tetap memiliki daya tarik ekonomi bagi generasi muda.

“Kita ingin urban farming berkembang menjadi sektor ekonomi baru di kota yang produktif, inovatif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Lia.

Ia berharap pengembangan pertanian perkotaan di Surabaya dapat menjadi model ekonomi komunitas yang tidak hanya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.

 

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
lia istfihama urban farming jatim Ning Lia