radarsurabayabisnis.id - Kawasan di Surabaya ini dari tempat kumuh menjadi destiny wisata estetik dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Wajah baru Jalan Kalimas Timur kini tampil lebih tertata, bersih, dan Instagramable, sekaligus disiapkan sebagai simpul wisata baru di Surabaya Utara.
Baca Juga: Banjir Donasi di Surabaya, Ribuan Keluarga Miskin Surabaya Terima Bantuan Ramadan, Ini Sebarannya
Dulu dikenal sebagai area semrawut dengan pedagang kaki lima (PKL) memenuhi bahu jalan, kini kawasan tersebut berubah menjadi koridor wisata yang terintegrasi dengan konsep kuliner, wisata air, hingga ruang kreatif bagi generasi muda.
PKL Direlokasi, Kawasan Lebih Tertata
Transformasi kawasan ini dimulai sejak 2024. Pemerintah Kota Surabaya merelokasi PKL yang sebelumnya berjualan di bahu Jalan KH Mas Mansyur ke lokasi yang lebih representatif, yakni Serambi Ampel dan Sentra Wisata Kuliner (SWK) Kalimas Timur.
Lurah Nyamplungan, Estu Sulaksono, menjelaskan bahwa relokasi ini merupakan bagian dari penataan berkelanjutan kawasan utara Surabaya.
PKL di SWK Kalimas Timur dibagi dalam dua kategori, yaitu pedagang perkakas atau barang bekas serta pedagang kuliner. Jam operasional pun diatur dua sesi, pukul 06.00–11.00 WIB untuk perkakas dan 16.00–23.00 WIB untuk kuliner. Setelah sesi pagi berakhir, area harus steril sebelum aktivitas sore dimulai.
Baca Juga: Ini Resiko Berangkat Umrah Ditengah Perang Iran, Ribuan Jemaah Jatim Masih di Tanah Suci
Penataan ini menjadi salah satu kunci mengapa Kawasan di Surabaya ini dari tempat kumuh menjadi destiny wisata estetik bisa terwujud secara nyata, bukan sekadar wacana.
Dipoles Lampu Hias, Mural hingga Dermaga Perahu
Perubahan tidak berhenti pada relokasi pedagang. Kawasan Kalimas Timur juga dipercantik dengan berbagai fasilitas pendukung. Mulai dari gapura penanda SWK, lampu hias di sisi Kalimas Timur dan Barat, mural tematik, CCTV, hingga rencana pembangunan dermaga perahu hias.
Konsepnya dirancang sebagai koridor wisata terintegrasi. Nantinya, wisatawan bisa menikmati wisata perahu hias pada malam hari dengan latar lampu dekoratif yang membentang di sepanjang sungai.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini Turun Hingga Rp33.000, Berikut Detail Harga Emas di UBS dan Galeri24
Pengunjung tidak hanya menikmati suasana sungai, tetapi juga dapat singgah ke SWK untuk mencicipi kuliner khas. Inilah yang membuat Kawasan di Surabaya ini dari tempat kumuh menjadi destiny wisata estetik dengan konsep wisata air dan darat yang saling terhubung.
Terintegrasi dengan Destinasi Surabaya Utara
Ke depan, kawasan ini dirancang terhubung dengan destinasi lain di Surabaya Utara. Salah satu ide yang tengah diupayakan adalah integrasi mobil kuno wisata dari Serambi Ampel menuju SWK Kalimas Timur.
Konsep integrasi ini diharapkan memperkuat ekosistem wisata di wilayah utara, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar.
Generasi Muda Didorong Ciptakan Kampung Tematik
Tak hanya infrastruktur, pemberdayaan warga juga menjadi fokus. Pemkot Surabaya mengalokasikan anggaran Rp5 juta per RW untuk mendukung kegiatan pemuda, dengan harapan muncul kampung tematik maupun inovasi kuliner khas Nyamplungan.
Baca Juga: RI Puncaki Produksi Nanas Global, Potensi Ekspor dan Hilirisasi Semakin Manis
Langkah ini diharapkan memperkuat identitas kawasan sekaligus menjaga keberlanjutan transformasi. Dengan kolaborasi warga, pemerintah, dan pelaku usaha, Kawasan di Surabaya ini dari tempat kumuh menjadi destiny wisata estetik bukan hanya proyek fisik, melainkan gerakan membangun wajah baru Surabaya Utara.
Transformasi Kalimas Timur kini menjadi contoh bagaimana penataan kawasan bantaran sungai dapat menghidupkan ekonomi, mempercantik kota, serta menciptakan ruang wisata baru yang estetik dan berdaya saing.
Editor : Hany Akasah