Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Baru Awal Ramadan, Kue Lumpur Sidoarjo Sudah Ludes 3000 Kue Lebih Per Hari, Ini Rahasianya

Hany Akasah • Senin, 2 Maret 2026 | 14:48 WIB

LARIS: Penjualan kue lumpur khas Sidoarjo,  meningkat tajam sejak awal Ramadan. Permintaan yang biasanya ramai saat akhir pekan, kini melonjak setiap hari hingga ribuan kue terjual.
LARIS: Penjualan kue lumpur khas Sidoarjo, meningkat tajam sejak awal Ramadan. Permintaan yang biasanya ramai saat akhir pekan, kini melonjak setiap hari hingga ribuan kue terjual.

radarsurabayabisnis.id - Selama Ramadan penjualan kue lumpur Sidoarjo meningkat tajam. Jika biasanya ramai saat akhir pekan, kini ribuan kue lumpur ludes terjual setiap hari sejak awal bulan puasa.

Baca Juga: THR Belum Dibayar? Posko Pengaduan THR di Sidoarjo Dibuka, Ini Lokasi dan Kontaknya

Lonjakan permintaan ini terlihat di salah satu sentra produksi di kawasan Jalan Hang Tuah, Sidoarjo. Aktivitas produksi berlangsung sejak pagi hari demi memenuhi pesanan pelanggan dari berbagai daerah.

Baca Juga: Langsung Ramai Penumpang, Commuter Line Surabaya-Probolinggo Mulai beroperasi, Berikut Jadwalnya

Produsen kue lumpur khas Sidoarjo, Lilik Resiyowati, mengungkapkan bahwa selama Ramadan rata-rata penjualan mencapai lebih dari 3.000 kue per hari.

“Biasanya ramai saat Sabtu, Minggu, dan hari besar bisa sampai dua ribu kue. Sekarang selama Ramadan rata-rata lebih dari tiga ribu kue per hari. Pembeli banyak dari Sidoarjo, Surabaya, Malang, bahkan Jakarta dan Bandung untuk oleh-oleh,” ujar Lilik.

Produksi Naik Drastis Selama Bulan Puasa

Sebelum Ramadan, penjualan tertinggi hanya menyentuh sekitar 2.000 kue per hari saat akhir pekan dan hari besar nasional. Namun memasuki bulan puasa, permintaan melonjak signifikan.

Baca Juga: Gen Z Hobi Makan Mie Pedas? Simak Peringatan Dokter Soal Risiko Jangka Panjangnya

Dalam sehari selama Ramadan, produksi menghabiskan sekitar:

Belasan pekerja terlihat menyiapkan adonan dari campuran kelapa muda, santan, tepung, dan telur ayam. Adonan kemudian dituangkan ke dalam cetakan panas di atas kompor bersuhu stabil.

Untuk memastikan kematangan merata, bagian atas cetakan diberi loyang berisi bara arang. Metode tradisional ini membuat kue matang sempurna dari bawah hingga atas sekaligus menjaga cita rasa khas kue lumpur Sidoarjo.

Baca Juga: Cara Ubah Ancaman Limbah Tekstil jadj Peluang Ekonomi Sirkular sebagai Transformasi Logistik Donasi

Ludes dalam Hitungan Jam untuk Takjil dan Oleh-oleh

Tak hanya warga lokal, pembeli datang dari berbagai kota untuk kebutuhan berbuka puasa maupun buah tangan.

Baca Juga: Gak Perlu Minyak! Ini 10 Ide Takjil Rebus dan Kukus yang Bikin Buka Puasa Tetap Nikmat.

Nanang Haromain, salah satu pelanggan, mengaku membeli dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada keluarga.

“Kami sering beli di sini karena memang khas Sidoarjo. Kali ini pesan 40 karton untuk dibagikan ke saudara di Surabaya dan Malang. Rasanya empuk dan manis, cocok untuk semua usia,” katanya.

Harga satu kotak berisi 10 kue lumpur original dibanderol Rp 36 ribu, sementara varian campuran original dan kelapa dijual Rp 41 ribu per kotak.

Setiap hari selama Ramadan, ribuan kue lumpur tersebut habis terjual hanya dalam hitungan jam. Fenomena ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional tetap menjadi primadona, terutama saat momen Ramadan.

Editor : Hany Akasah
#Makanan Khas Sidoarjo #kuliner Sidoarjo #Kue lumpur Sidoarjo #kue lumpur bakar #kuliner sidoarjo viral