RADAR GRESIK – Fenomena musiman Ramadan kembali menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi mikro di Kabupaten Gresik, salah satunya melalui popularitas kue dongkal.
Meski berasal dari Betawi, kudapan ini bertransformasi menjadi komoditas bisnis yang sangat menjanjikan di wilayah Cerme.
Strategi pemasaran yang tepat dan pemanfaatan media sosial terbukti mampu mendongkrak pendapatan pelaku usaha secara signifikan meski baru merintis usaha dalam waktu singkat.
Septian, seorang pelaku UMKM asal Sukodadi, Lamongan, menjadi salah satu sosok yang berhasil menangkap peluang ekonomi ini.
Dengan membuka lapak di pinggir Jalan Raya Desa Betiting, Kecamatan Cerme, ia mampu mencatatkan performa bisnis yang impresif dengan omzet bersih mencapai Rp500 ribu hingga Rp1 juta per hari hanya dalam waktu operasional yang sangat singkat, yakni mulai pukul 16.00 hingga 18.00 WIB.
Efisiensi waktu dan tingginya permintaan pasar membuat stok dagangannya ludes dalam hitungan jam. “Dalam tiga jam sudah habis,” ucapnya saat menjelaskan perputaran barang dagangannya yang sangat cepat.
Bisnis yang awalnya berawal dari eksperimen pribadi ini kini berkembang menjadi sumber pendapatan utama bagi Septian dan istrinya.
Strategi live cooking atau memasak langsung di lokasi menjadi nilai tambah (value added) yang menarik minat konsumen, ditambah dengan sistem antrean menggunakan nomor agar tertib.
“Awalnya coba-coba. Ternyata banyak yang suka, akhirnya buka lapak sendiri di sini,” imbuhnya.
Selain itu, Septian mengakui kekuatan pemasaran digital turut mendorong angka penjualan produknya. “Bahkan, kue dongkal buatannya sempat viral di media sosial sehingga banyak warga penasaran ingin mencicipi,” jelasnya.
Secara teknis produksi, efisiensi biaya bahan baku yang terdiri dari tepung beras, gula aren, dan kelapa memungkinkan Septian mematok harga yang kompetitif namun tetap menguntungkan.
Dengan harga porsi biasa Rp10 ribu dan porsi jumbo Rp15 ribu, ia mampu menjual hingga 13 kukus tumpeng per hari, di mana satu tumpeng menghasilkan 20 porsi siap jual.
Peningkatan volume penjualan ini dirasakan sangat signifikan selama momentum bulan suci. “Alhamdulillah selama Ramadan ini penjualan terus meningkat,” tegasnya dengan nada optimis.
Dari sisi konsumen, keterjangkauan harga menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian. Rani, salah seorang pembeli, menyebutkan bahwa nilai ekonomi produk ini sangat sesuai dengan daya beli masyarakat saat ini, terutama untuk kebutuhan takjil yang praktis.
“Saya beli dua porsi. Baru pertama kali coba, satu porsi cuma Rp10 ribu, murah untuk berbuka,” tutupnya.
Keberhasilan Septian menunjukkan bahwa sinergi antara kuliner tradisional, inovasi penyajian, dan pemasaran digital dapat menciptakan peluang ekonomi yang kuat bagi masyarakat daerah. (jar/han)
Editor : Hany Akasah