RADAR SURABAYA BISNIS – Sektor kelautan Indonesia menyimpan sebuah harta karun hijau yang belum tergarap secara maksimal.
Rumput laut, komoditas yang selama ini identik dengan pekerjaan tradisional di pesisir, kini diproyeksikan menjadi pilar utama ekonomi biru nasional dengan nilai omzet mencapai Rp24,2 triliun pada tahun 2024.
Indonesia merupakan salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia dengan varian unggulan seperti Kappaphycus, Eucheuma, dan Gracilaria.
Tingginya permintaan global untuk industri hilirisasi—mulai dari kosmetik, bioplastik, hingga bioenergi—menempatkan komoditas ini dalam posisi strategis di pasar internasional.
Tantangan Regenerasi dan Peluang Ekonomi Hijau
Meskipun memiliki potensi ekonomi yang masif, sektor ini menghadapi tantangan serius berupa minimnya regenerasi. Mayoritas petani rumput laut saat ini telah memasuki usia senja, sementara minat generasi muda untuk terjun ke sektor ini masih rendah karena dianggap kurang prestisius.
Padahal, rumput laut bukan sekadar komoditas dagang. Tanaman ini berperan penting dalam meredam perubahan iklim dengan menyerap karbon dan menjaga keseimbangan nutrisi perairan.
Hal ini membuka peluang bagi munculnya green jobs yang selaras dengan kepedulian lingkungan yang dilakukan oleh Gen Z.
Sentuhan Teknologi Gen Z sebagai Game Changer
Transformasi industri rumput laut dari sektor hulu ke hilir membutuhkan inovasi digital yang dikuasai oleh generasi muda.
Penggunaan platform pemasaran daring, sistem monitoring berbasis satelit, hingga penerapan smart aquaculture (budidaya pintar) melalui sensor kualitas air berbasis AI diyakini dapat meningkatkan efisiensi dan menekan risiko gagal panen.
Pemerintah juga mulai mendorong penguatan ekosistem melalui integrasi rumput laut dalam strategi bioekonomi nasional dan pemberian insentif bagi industri pengolahan.
Dengan dukungan pembiayaan inovatif dan kepastian ruang usaha, sektor ini diharapkan mampu menjadi magnet baru bagi startup maritim dan industri kreatif berbasis laut.
Jika ekosistem ini berhasil dibangun, rumput laut bukan lagi sekadar bahan mentah, melainkan simbol kedaulatan bahari yang menghubungkan tradisi pesisir dengan inovasi global menuju Indonesia Emas 2045.
Editor : Hany Akasah