Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Lupakan Terigu Impor! Bisnis MOCAF dan Beras Analog Singkong Kini Jadi Primadona Ekonomi Baru

Hany Akasah • Rabu, 18 Februari 2026 | 10:30 WIB
Inovasi Ubi Kayu, salah satunya dijadikan tepung MOCAF.
Inovasi Ubi Kayu, salah satunya dijadikan tepung MOCAF.

RADAR SURABAYA BISNIS – Ketergantungan industri pangan nasional terhadap tepung terigu impor kini mulai menemukan penawarnya. 

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan potensi besar ubi kayu atau singkong sebagai komoditas strategis yang mampu meningkatkan nilai ekonomi daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Periset Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Joko Susilo Utomo, menegaskan bahwa singkong bukan lagi sekadar "makanan kampung". 

Dengan sentuhan teknologi, singkong dapat diolah menjadi Modified Cassava Flour (MOCAF) yang memiliki karakteristik menyerupai terigu.

"Tepung MOCAF memiliki keunggulan warna yang lebih putih, aroma netral, dan tekstur remah. Ini bisa menggantikan fungsi tepung terigu yang selama ini kita impor," ujar Joko dalam keterangannya di Gunungkidul.

Peluang Bisnis dari Hulu ke Hilir

Secara bisnis, fleksibilitas ubi kayu sangat menggiurkan. Untuk industri bakery, MOCAF mampu mensubstitusi terigu hingga 100% pada pembuatan kue kering dan 50% pada kue basah. 

Selain itu, ubi kayu yang dikeringkan (gaplek) kini bisa diolah menjadi beras analog menggunakan mesin single screw extruder, sebuah inovasi yang menyasar pasar konsumen sadar kesehatan.

Tak hanya di sektor kuliner, turunan ubi kayu seperti pati atau tapioka telah merambah dunia industri sebagai bahan baku lem cair, pengental tekstil, hingga pembuatan kertas.

Data Produksi Nasional

Potensi keuntungan ini didukung oleh ketersediaan bahan baku yang melimpah. Pada tahun 2023, produksi nasional ubi kayu tercatat mencapai 16,76 juta ton. 

Baca Juga: Jalan Raya Setiabudi Depan Pasar Krian Rusak Berat, Bupati Subandi Minta Overlay Total

Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri menyumbang 1,07 juta ton, menjadikannya salah satu motor penggerak industri berbasis singkong di Indonesia.

Keamanan Pangan Tetap Utama

Meski menjanjikan cuan besar, BRIN tetap menekankan pentingnya standar keamanan. Joko mengingatkan bahwa ubi kayu yang aman dikonsumsi langsung harus memiliki kadar asam sianida (HCN) di bawah 50 mg/kg. 

Sementara ubi kayu pahit dengan kadar HCN tinggi dialokasikan khusus untuk kebutuhan industri non-pangan dan bioetanol.

Dengan hilirisasi yang tepat, ubi kayu diprediksi akan menjadi komoditas emas yang mengubah peta industri pangan Indonesia dari berbasis impor menjadi berbasis kearifan lokal yang bernilai tinggi.

Editor : Hany Akasah
#singkong #BRIN #mocaf #terigu #yogyakarta