Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Pergeseran Tren Konsumsi Remaja Jadi Peluang Sekaligus Tantangan bagi Industri F&B dan Media Sosial

Hany Akasah • Selasa, 17 Februari 2026 | 08:03 WIB
TREN MAKAN: Industri F&B dan Sosmed Perlu Antisipasi Risiko Kesehatan Mental Remaja.
TREN MAKAN: Industri F&B dan Sosmed Perlu Antisipasi Risiko Kesehatan Mental Remaja.

RADAR SURABAYA BISNIS – Temuan terbaru dari Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi (PRKMG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan sinyal kuat bagi para pelaku bisnis di sektor makanan dan minuman (Food and Beverage) serta platform digital.

Riset tersebut mengungkap adanya pergeseran pola konsumsi dan dampak penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental remaja Indonesia.

Berdasarkan paparan peneliti BRIN, Rofingatul Mubasyiroh, pola konsumsi remaja saat ini mulai didominasi oleh makanan modern-western (cepat saji dan minuman manis) dengan frekuensi mencapai 3,8 kali per hari. Angka ini hampir menyaingi pola makan tradisional Indonesia yang berada di angka 4,1 kali per hari.

Baca Juga: Pengendara Motor Ugal-Ugalan di Jembatan Suramadu, Freestyle Tiduran di Jok Viral Tuai Kecaman

Peluang Pasar di Tengah Perubahan Perilaku

Bagi pelaku industri F&B, data ini menunjukkan bahwa pasar remaja sangat adaptif terhadap produk modern.

Namun, riset ini juga memberikan catatan penting, konsumsi makanan modern-western dalam frekuensi sedang ternyata memiliki efek protektif terhadap gejala depresi dibandingkan konsumsi berlebihan.

Hal ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan produk yang tidak hanya mengedepankan rasa, tetapi juga porsi yang terukur dan nilai gizi yang seimbang guna mendukung kesehatan mental konsumen muda.

Baca Juga: RI Mulai Garap Harta Karun Biru: Proyek Listrik Arus Laut Resmi Masuk RUPTL 2025-2034

Dampak Ekonomi Digital dan Tanggung Jawab Brand

Sisi lain dari riset ini menyoroti peran media sosial. Peneliti Ahli Madya BRIN, Kencana Sari, mengungkapkan bahwa remaja yang memiliki banyak akun media sosial dan berperan sebagai pengguna pasif memiliki risiko gangguan makan 1,8 kali lebih tinggi.

Temuan ini menjadi tantangan bagi perusahaan teknologi dan digital marketing. Perusahaan kini didorong untuk menerapkan pemasaran yang bertanggung jawab (responsible marketing).

Tren bisnis masa depan diprediksi akan lebih berpihak pada brand yang mampu mengurasi konten positif dan mendukung citra tubuh (body image) yang sehat bagi penggunanya.

Baca Juga: Armada Bus Peziarah Wisata Religi Gresik Disidak dalam Operasi Keselamatan Semeru 2026, Ini yang Dicek

Edukasi sebagai Instrumen Bisnis Berkelanjutan

BRIN menekankan pentingnya edukasi gizi sejak dini. Dalam konteks bisnis, ini adalah momentum bagi sektor swasta untuk berkolaborasi dengan pemerintah dalam kampanye hidup sehat.

Perusahaan yang mengintegrasikan unsur edukasi dalam strategi penjualannya berpotensi memenangkan kepercayaan konsumen Gen Z yang semakin peduli pada isu kesehatan mental.

Editor : Hany Akasah
#fnb #remaja #BRIN #pola makan #sosmed #sehat