RADAR SURABAYA BISNIS – Memasuki tahun 2026, perilaku belanja masyarakat Indonesia dilaporkan telah mengalami evolusi besar.
Bukan lagi sekadar memburu promo potongan harga yang bombastis, konsumen kini jauh lebih selektif dan memprioritaskan faktor kepercayaan serta ketenangan pikiran saat bertransaksi.
Fenomena ini disebut oleh industri sebagai era Confidence Commerce. Di mana nilai sebuah barang tidak lagi hanya diukur dari angka di label harga, melainkan dari ekosistem keamanan yang menyertainya.
Evolusi Konsumen: Dari ‘Pemburu Diskon’ Menjadi ‘Smart Buyer’
Commercial Director Lazada Indonesia, Erika Agustine, menyebutkan bahwa pergeseran ini adalah bentuk kedewasaan pasar.
Setelah bertahun-tahun akrab dengan belanja daring, konsumen mulai belajar dari pengalaman masa lalu, termasuk risiko penipuan yang sering membayangi barang-barang dengan harga yang tidak masuk akal.
"Sekarang orang sudah mulai lebih bijaksana. Mereka tidak lagi sekadar mencari harga paling murah, tapi melihat value-nya secara utuh," ungkap Erika dalam diskusi di Jakarta, baru-baru ini.
Menurut Erika, saat ini ada beberapa variabel baru yang masuk dalam pertimbangan konsumen sebelum menekan tombol 'Beli Now'.
Asuransi & jaminan pada eamanan pengiriman barang berharga (seperti motor atau elektronik), serta mendapat kepastian bahwa produk berasal dari distributor resmi atau prinsipal langsung.
Kepercayaan pada ekosistem platform yang bisa menjamin perlindungan konsumen juga menjadi pertimbangan besar konsumen.
Gaya Hidup & Produktivitas Jadi Penggerak Utama
Menariknya, motivasi belanja juga bergeser dari sekadar memenuhi kebutuhan pokok (sembako/kebutuhan dasar) menuju peningkatan kualitas hidup.
Tren menunjukkan peningkatan pada kategori home appliances dan perangkat penunjang produktivitas. Hal ini dijawab Lazada dengan memperkuat LazMall, sebuah 'mall virtual' yang menjamin keaslian 100%.
"Kita fokus ke LazMall karena di sana semua seller-nya terkurasi. Konsumen butuh kepastian bahwa uang yang mereka keluarkan sebanding dengan kualitas yang didapat," tambah Erika.
Demokratisasi Ekonomi Lewat Afiliasi
Di sisi lain, tren ini juga mendorong pertumbuhan ekosistem kreator. Menariknya, menjadi influencer kini tak lagi eksklusif milik mereka yang memiliki jutaan pengikut.
Melalui program afiliasi yang lebih terbuka, setiap orang kini bisa menjadi sumber rekomendasi terpercaya dan mendapatkan komisi.
Sehingga dapat menciptakan ekosistem belanja berbasis komunitas yang lebih organik dan jujur.
Editor : Hany Akasah