RADAR SURABAYA BISNIS – Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, kini tengah bersolek menjadi pusat ekonomi baru berbasis hortikultura.
Dengan lahan seluas ratusan hektare, wilayah ini tidak hanya memproduksi alpukat kualitas lokal, tetapi juga merambah varietas impor yang bernilai ekonomi tinggi.
Tiga desa utama yang menjadi motor penggerak ekonomi ini adalah Desa Pucangsari, Tambaksari, dan Gajahrejo. Di sini, petani mulai beralih dari pola tanam tradisional ke budidaya intensif yang berorientasi pasar nasional hingga ekspor.
Dominasi Varietas Impor dan Skala Produksi
Budi Rahman, Ketua Asosiasi Petani Alpukat Kecamatan Purwodadi, mengungkapkan bahwa tren pasar saat ini lebih condong pada varietas impor. Dari 250 pohon yang dikelolanya, sekitar 85% merupakan jenis unggulan.
"Mayoritas yang ditanam jenis impor seperti Miki, Kuba, Markus, Hawai, hingga Aligator. Alpukat mentega juga tetap jadi primadona," ujar Budi saat ditemui di kebunnya, Senin (2/2/2026).
Secara hitungan bisnis, satu pohon alpukat dewasa mampu menghasilkan 2 hingga 5 kwintal buah. Dengan harga jual di tingkat petani mencapai Rp35.000 per kilogram untuk varietas impor, potensi pendapatan dari satu pohon saja bisa mencapai jutaan rupiah per musim panen.
Ekspansi Pasar dan Wisata Edukasi
Kualitas alpukat Purwodadi telah diakui secara luas. Pengiriman rutin dilakukan ke kota-kota besar di Jawa Timur seperti Malang dan Sidoarjo, bahkan telah menembus pasar luar pulau.
"Pengiriman ke Kalimantan Timur saja bisa mencapai 10 ton sekali kirim," tambah Budi.
Melihat potensi yang masif, Camat Purwodadi, Sugiharto, menjelaskan bahwa pemerintah daerah kini mendorong konsep Wisata Edukasi Budidaya Alpukat.
Baca Juga: Hati-hati! Janji Cinta Palsu Kini Bisa Dipidana Sembilan Tahun, Begini Aturannya
Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan added value bagi petani selain dari sekadar menjual buah segar.
Dukungan Pemerintah: Gerakan Gema Kating
Selain aspek ekonomi, Pemerintah Kabupaten Pasuruan memanfaatkan melimpahnya stok alpukat sebagai instrumen kesehatan masyarakat melalui gerakan Gema Kating (Gerakan Makan Buah untuk Mencegah Stunting).
Alpukat dipilih karena kandungan gizinya yang tinggi untuk menunjang pertumbuhan balita di wilayah tersebut.
Editor : Hany Akasah