RADAR SURABAYA BISNIS – Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo (Harjasda) ke-167 tahun 2026 diwarnai beragam kegiatan sosio-kultural yang sarat nilai tradisi.
Salah satunya tradisi ruwat desa atau sedekah bumi yang kembali digelar meriah oleh masyarakat Desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian, menjelang datangnya bulan suci Ramadan.
Ikon utama dalam kegiatan tersebut adalah tumpeng tempe raksasa setinggi sekitar 13–14 meter.
Baca Juga: Proyek Revitalisasi Alun-alun Sidoarjo Capai 99,9 Persen, Kontraktor Dibayangi Denda Keterlambatan
Gunungan tempe ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus penegasan identitas Desa Sedengan Mijen sebagai sentra penghasil tempe di Kabupaten Sidoarjo. Tumpeng tempe disusun secara gotong royong oleh warga dari sekitar tiga kuintal kedelai hasil swadaya masyarakat.
Usai didoakan, ribuan warga yang sejak pagi memadati Lapangan Desa Sedengan Mijen langsung berebut potongan tempe. Suasana penuh kegembiraan mewarnai prosesi tersebut. Tempe yang dibagikan diyakini membawa berkah bagi siapa pun yang mendapatkannya.
Kemeriahan ruwat desa tidak hanya ditandai dengan tumpeng tempe raksasa. Sebanyak 31 tumpeng hasil bumi dari masing-masing RT turut memeriahkan acara. Aneka hasil pertanian, perkebunan, hingga perikanan warga dipersembahkan dan dibagikan, memperkuat nuansa kebersamaan dan kekeluargaan.
Camat Krian, Nawari, yang hadir mewakili Bupati Sidoarjo, menyampaikan apresiasi atas kekompakan dan partisipasi masyarakat dalam menjaga tradisi budaya lokal. Ia menilai tradisi sedekah bumi memiliki nilai positif karena tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata daerah.
Baca Juga: Wagub Emil Sampaikan Kabar Bahagia untuk Warga Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik
“Jika terus dilestarikan, kegiatan budaya seperti sedekah tumpeng tempe ini dapat masuk dalam agenda wisata daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sedengan Mijen, Hasanuddin, menegaskan bahwa sedekah tumpeng tempe bukan sekadar agenda tahunan, melainkan wujud rasa syukur sekaligus sarana mempererat persatuan warga.
Ia bersyukur seluruh rangkaian ruwat desa berjalan lancar. Hasanuddin juga menyampaikan terima kasih kepada panitia dan seluruh pihak yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan tersebut.
Rangkaian ruwat desa telah dilaksanakan sejak beberapa hari sebelumnya, mulai dari istighosah, barikan Khotmil Qur’an, pagelaran wayang kulit, hingga pasar jajanan tradisional. Puncak acara ditandai dengan doa bersama dan perebutan tumpeng di lapangan desa yang berlangsung hingga acara berakhir dengan antusiasme tinggi dari masyarakat.
Tradisi tumpeng tempe raksasa ini terus menjadi agenda tahunan yang dinanti warga Sedengan Mijen sekaligus memperkaya khazanah budaya Kabupaten Sidoarjo. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista